Candi Cangkuang Leles Garut

Riwayat didirikannya C.A.N.D.I.C.A.N.G.K.U.A.N.G di Garut Jawa Barat
Berdasarkan laporan yang ditulis Vorderman dalam notulen Bataviaasch Genootshap terbit tahun 1893.
Dalam tulisan tersebut disebutkan adanya temuan sebuah ARCA yang sudah rusak di sekitar situ/danau dan temuan sebuah MAKAM keramat Embah Dalem Arif Muhammad yang sangat dihormati oleh penduduk setempat.
Di dalam laporan yang ditulis Vorderman dalam notulen Bataviaasch Genootshap terbit tahun 1893 tersebut tidak pernah mengatakan tentang ada nya sebuah candi.
Lalu pada tahun 1966 dibentuklah tim peneliti yang dibentuk oleh Harsoyo dan Uka Candrasasmita untuk menelusuri laporan notulen Vorderman yang terbit tahun 1893 mengenai adanya sebuah ARCA yang rusak serta MAKAM leluhur Arif Muhammad di Leles.
Tim ini dikabarkan juga menemukan reruntuhan pedestal atau fondasi kuno, terdapat pula serpihan pisau serta batu-batu besar yang diperkirakan peninggalan zaman megalitikum.
Yang dilakukan tim selanjutnya tahun 1967 dan 1968 adalah menggali fondasi atau pedestal kuno disekitar makam.
Lalu diperkirakan bahwa reruntuhan pedestal atau fondasi kuno itu merupakan peninggalan abad ke-8 M (701 – 800 M),
Di antara sisa-sisa pedestal atau fondasi kuno, ditemukan arca yang disebutkan didalam laporan yang ditulis Vorderman dalam notulen Bataviaasch Genootshap terbit tahun 1893 yang diperkirakan berasal dari tahun 1800’an (abad 19 M) dengan posisi sedang :
– Bersila di atas padmasana ganda.
– Kaki kiri menyilang datar yang alasnya menghadap ke sebelah dalam paha kanan.
– Kaki kanan menghadap ke bawah beralaskan lapik.
– Di depan kaki kiri terdapat kepala sapi (nandi) yang telinganya mengarah ke depan.
– Dengan adanya kepala nandi ini, para tim peneliti BERASUMSI bahwa ini adalah arca Siwa.
– Kedua tangannya menengadah di atas paha.
– Pada tubuhnya terdapat penghias perut, penghias dada dan penghias telinga.
Saat ditemukan Keadaan arca ini sudah rusak :
– Wajahnya datar,
– Bagian tangan hingga kedua pergelangannya telah hilang.
– Lebar wajah 8 cm,
– Lebar pundak 18 cm,
– Lebar pinggang 9 cm,
– Padmasana 38 cm (tingginya 14 cm),
– Lapik 37 cm & 45 cm (tinggi 6 cm dan 19 cm),
– Tinggi 41 cm.
Bila laporan yang ditulis Vorderman dalam notulen Bataviaasch Genootshap terbit tahun 1893 hanya menyebutkan temuan berupa arca yang sudah rusak dan ternyata arca tersebut pun berasal dari abad 19 (1800’an M) & sebuah makam leluhur islam yang dikeramatkan penduduk setempat, lalu kenapa dilokasi tersebut didirikan sebuah candi yang kemudian diberi nama Candi Cangkuang.
Bangunan berbentuk candi yang sebagaimana terlihat di foto ini, sesungguhnya adalah HASIL REKAYASA REKONSTRUKSI, sebab bangunan aslinya yg diduga berasal dari abad ke 8 (701 – 800 M) hanyalah berupa pedestal atau fondasi nya saja, itupun sisa sisa fondasi yang asli nya hanya sekitar 35%-an.
Oleh karena bentuk bangunan asli dari pedestal atau fondasi kuno itu tidak diketahui, maka berdasarkan ASUMSI pedestal atau fondasi kuno itu berasal dari abad ke 8 M (701 – 800 M) & arca yg berasal dari abad ke 19 (1800’an M), lalu dibuatlah bentuk bangunan menyerupai candi meniru bentuk candi candi di jawa timur yang berasal dari abad ke 8 M (701 – 800 M).
Bangunan berbentuk candi yang merupakan HASIL REKAYASA KONSTRUKSI ini dibangun pada tahun 1976 & selesai serta diresmikan pada tahun 1978, lalu diberi nama CANDI CANGKUANG


About this entry