Sisi Lain Dampak Dari Renville

(Kopi dari Grup Salakanagara) : Indriani Lestari Internona

Divisi Siliwangi Kesatria-Kesatria Ki Sunda.

Hanya sekedar mengingat kembali!!! Entah sejak kapan, jika mendengar kata Sunda, yang terbesit adalah sosok Kabayan. Sudah sejak lama Sunda kehilangan sosok / image yang lebih baik dari sekedar Kabayan (tanpa bermaksud merendahkan nilai-nilai bijak dari kisah Kabayan).

Program pembelokan sejarah nampaknya yang di buat oleh orang non sunda sudah cukup sukses merubah persepsi tentang Sunda. ada sebuah blog yang mengatakan, menikah dengan orang Sunda bermasa depan suram, karena perilaku orang Sunda yang pemalas dan pengecut. Lagi-lagi stereotype kesukuan. Namun yg saya sangat prihatin, ternyata ada, dan banyak orang Sunda yang termakan pembelokan sejarah ini, dan benar-benar
meyakini stereotype itu. Semoga kisah para kesatria Sunda yang banyak ditutupi ini bisa menginspirasi kita untuk mengenal siapa kita.

Ada kisah Long March Siliwangi (Tentara Orang-orang sunda) yang tidak pernah dibahas dalam buku sejarah. Rezim orde baru dan orde lama sudah cukup lama mati-matian menutupi aib ini. Namun nampaknya kebenaran yang satu ini sulit ditutupi. Setelah Bubat, sebetulnya Jawa-Sunda pernah kembali melakukan konflik senjata di Solo, yaitu ketika peristiwa hijrahnya pasukan Siliwangi meninggalkan Jawa Barat karena perjanjian Renville.

Sebelumnya mari kita bahas sedikit soal Renville, karena buku sejarah SD kita pun banyak menutupi masalah dibaliknya. Sebetulnya perjanjian ini sangat merugikan orang Sunda, karena berakhir dengan harus lepasnya wilayah jawa barat ke tangan Belanda. Kenapa harus jawa barat?! hal ini ga pernah kita ketahui. Ingat peristiwa “Bandung Lautan Api”? lagi-lagi buku sejarah SD kita ga cukup jujur mengatakan bahwa BLA terjadi gara-gara perjanjian Renville. Warga Bandung saat itu sebetulnya sangat marah dan merasa dikhianati oleh republik, akibat perjanjian Renville. Beberapa berpikir untuk mendirikan negara baru, yang akhirnya kita kenal DI/TII Kartosuwiryo.

Suasana panas dan perdebatan panjang bersama Komandan Divisi III TRI, saat itu A.H. Nasution. Akhirnya Madjelis Persatoean Perdjoangan
Priangan (MP3) yang berisi para tokoh Bandung tempo dulu, akhirnya mengambil keputusan untuk membumihanguskan Bandung sebelum diserahkan kepada Belanda. Aki saya yang seorang pedagang dengan bersemangat membakar tokonya sendiri. Dengan rasa penasaran saya bertanya, orang sinting mana yg dengan sukarela membakar rumah, tempat usahanya, dan hijrah ke antah berantah?! jawaban aki saya “aing mah republikan sejati..kajeun imah jeung toko aing rata jeung
taneuh tibatan dipake ku anjing-anjing Belanda” Jelas suatu keputusan yg sulit dipahami oleh kita, generasi Indonesia modern. Ajaibnya 100.000 warga Bandung memiliki idenya yg sama. Sebetulnya BLA jelas-jelas pelanggaran & penghinaan terhadap perjanjian Renville.

Namun A. H. Nasution memahami betul arti kehormatan bagi orang Sunda. Atau bisa jadi beliau terpojok oleh tuntutan para tokoh di MP3. Namun sekarang kita tau dan bisa menjelaskan, kenapa dari sederet lagu perjuangan hanya Bandung satu-satunya kota yg disebut khusus dan spesifik dalam 1 lagu. Melihat apa yg dikorbankan 100.000 penduduk Bandung saat itu, saya rasa hal itu cukup pantas. Dan A.H. Nasution yg hingga meninggalnya berada dalam tahanan rumah rezim
Suharto, sekarang kita tahu kenapa nama itu menjadi nama jalan.

Ditengah dilema antara patuh dan setia pada Republik atau memberontak karena merasa dikhianati Republik yang menyerahkan Jawa Barat begitu saja, setibanya di Solo, bukan sambutan hangat dari saudara sebangsa yang diterima. Divisi IV Panembahan Senopati (sekarang Div. Diponegoro) asal Solo malah mencemooh tentara Siliwangi sebagai “Tentara Kantong” yang selalu kalah perang. Lebih jauh mereka mengungkit-ngungkit peristiwa Bubat yang terjadi pada abad 16. Kehadiran Divisi Siliwangi di jawa tengah, secara sosial
menimbulkan kesenjangan sosial. Div. Siliwangi yang berseragam
lengkap yang rapi, persenjataan lengkap, dan disiplin tinggi, sangat mencolok dibanding div. lainnya. Hal ini membuat penampilan Divisi lainnya lebih mirip milisi dibanding tentara profesional. Belum lagi para perwira Siliwangi yang jauh lebih berpendidikan, mereka sangat fasih berbicara bahasa Belanda dan Inggris. Kadang diantara perwira kerap kali berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Banyak prajurit Divisi IV Panembahan Senopati merasa terganggu oleh kehadiran tentara Sunda ini. Siliwangi yang berakronim SLW diplesetkan oleh mereka sebagai Stoot Leger Wilhelmina (tentara penyerang Wilhelmina, ratu Belanda saat itu).

Sebuah dilema bagi prajurit Siliwangi, disatu sisi mereka hijrah
atas perintah republik. Perintah yg sebetulnya bertolak belakang dengan keinginan mempertahankan tanah kelahiran. Namun
sikap profesionalisme dan kepentingan bangsa jauh lebih penting
dibanding keinginan pribadi. Terpisah dari keluarga, kehilangan
tanah kelahiran, kehilangan harta benda. Perlakuan seperti ini
jelas tidak pernah terbersit dalam pikiran mereka. PKI melihat ini sebagai suatu kesempatan. Untuk memperpanas suasana, PKI menculik dan membunuh pimpinan Divisi IV Panembahan Senopati , Kolonel Soetarto. Mudah di tebak, Divisi IV Panembahan Senopati menuduh Siliwangi dalangnya dibalik itu. Tidak tanggung-tanggung Divisi IV Panembahan Senopati terang-terangan mengusir tentara Siliwangi dengan kasar namun prajurit Sunda masih berusaha untuk sabar. Melihat Divisi Siliwangi yg tetap menolak pergi, akhirnya Divisi IV Panembahan Senopati menyerang Kompi Siliwangi di stasiun KA Balapan Solo dengan mendadak. Habis kesabaran, hal ini dijawab dengan mengalirnya seluruh pasukan Siliwangi di luar kota Solo sambil
menyerang tiap pos Divisi IV Panembahan Senopati yang di jumpai.

A.H. Nasution melihat yg terjadi pun tidak dapat melakukan banyak. Hal ini membuat Jendral Sudirman merasa perlu turun tangan.
Sudirman mendesak agar Siliwangi memenuhi tuntutan Divisi IV
Panembahan Senopati, dan kembali ke Jawa Barat, namun Siliwangi tetap menolak karena hal itu akan melanggar isi perjanjian Renville. Melihat banyak korban di Divisi IV Panembahan Senopati yang terus bertambah, akhirnya Gatot Subroto yang saat itu masih berpangkat Kolonel mengeluarkan perintah penghentian baku tembak dan meminta komandan kesatuan yang bertikai untuk menyatakan kesetiaan pada Republik, jika tidak akan dianggap sebagai pemberontak.

Akhirnya pertikaian dapat dihentikan. Akhirnya terbukti bahwa PKI dibalik ini semua. Melihat Divisi IV Panembahan Senopati yang banyak jatuh korban, akhirnya kembali prajurit Siliwangi yg harus menyelesaikan masalah ini. Siliwangi ditugaskan menghantam kekuatan PKI hingga ke Madiun dan menangkap pelaku pembunuh Kol. Soetarto. Dalam satu rapat sebelum keputusan hijrahnya Divisi
Siliwangi, ada keraguan, apakah Siliwangi dibiarkan bergerilya di jawa
barat atau ditarik ke jawa tengah. Merasa Belanda akan melanggar perjanjian Renville dan melakukan agresi militer(dan ini terbukti setelahnya), Sukarno mengatakan “Tidak, mereka pasukan elite, kita akan membutuhkan mereka, tarik semua ke jawa tengah”.

Kiprah prajurit Sunda berikutnya, ga banyak kita tahu, dan memang perannya dikecil-kecilkan. Seorang keluarga dari Ali akbar, salah 1 penerjun pertama Indonesia menuturkan, 7 dari 13 penerjun pertama Indonesia adalah orang Sunda. Saat itu atas permintaan Gubernur Kalimantan dicarilah 14 orang yg cukup gila dan berani untuk loncat dari pesawat. Ide loncat dari pesawat dan mempercayakan 80% pada alat, 20% nya pada nasib, adalah ide yg sangat aneh saat itu. Ali Akbar sendiri konon dipilih karena dia sering melawan atasannya, dan diharapkan dalam penerjunan itu dia mati hingga akhir hayatnya memang karir Ali Akbar tidak secemerlang keberaniannya. Namun tidak ada 1 akal bulus dan sebutir peluru pun berhasil membunuhnya. Ali Akbar mati dengan tenang dikelilingi keluarga dan kerabatnya. Lebih jauh, Ali Akbar merupakan sahabat dari Atjoem Kasoem, seorang pengusaha optik yg kita kenal dengan toko A. Kasoem.

Sedikit orang tahu bahwa Kasoem yang asli Garut sebelumnya adalah pejuang. Kasoem yang saat itu masih bekerja pada toko kacamata milik yahudi Jerman, sambil berdagang kacamata dengan sepedanya diam-diam melakukan aktivitas spionase. Profesinya membuat dia mudah keluar masuk pos-pos militer Belanda dan kantor sipil Belanda. Hingga pada suatu saat aktivitasnya terendus Belanda. Setelah interogasi panjang, Kasoem menolak memberikan informasi pos2x laskar pejuang, hingga akhirnya Belanda memutuskan menghukum gantung Kasoem. Laskar pejuang yang kebetulan melewati pos itu, mendengar ada sesama pejuang yg akan dihukum gantung, langsung merencanakan penyerbuan. Beruntung bagi Kasoem, penyerbuan dilakukan mendekati detik-detik hukuman akan dijalankan. Dan ternyata pemimpin laskar itu adalah Ali Akbar. Disitulah konon perkenalan pertama mereka. Ketika Indonesia merdeka, 2 sahabat ini dihadapkan pada 2 pilihan, meneruskan karier militer profesional, atau menjadi sipil. Ali Akbar memilih berkarir di militer, sementara Kasoem memilih kembali menjadi sipil dan berdagang. Hingga hari ini keluarga Ali Akbar dan Kasoem masih menjalin hubungan. Ketangguhan Divisi Siliwangi membuat pemerintah sendiri akhirnya ketakutan.

Bisa jadi ketakutan akan tragedi di Solo terulang, akhirnya Divisi ini banyak mengalami bongkar pasang. Dan peta kekuatan pun disebar (dilemahkan?!). Secara politis, memang berbahaya jika kekuatan ini dibiarkan. Jika sampai Divisi Siliwangi membelot, DI/TII Kartosuwiryo akan terdengar seperti dongeng sebelum tidur. Divisi ini juga akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya Kopassus. seperti biasa, lagi-lagi sejarawan
istana malu-malu mengakui hal ini. Kita lalu membayangkan, sosok divisi militer tangguh ini pasti seram, beringas, dan sadis. Hal itu terbantahkan ketika kita bertemu mereka. Nampaknya divisi ini memang pantas menggunakan nama Siliwangi. Tahun 1965 – 1966, ketika jateng, jatim, dan Bali melakukan pelanggaran HAM dengan
membantai massal orang2x yg dituduh PKI, Petinggi Div. Siliwangi jauh lebih berpendidikan dan open minded. Ibrahim Adjie Pangdam Siliwangi saat itu melakukan pendekatan yg lebih manusiawi dan melarang anak buahnya membunuh orang yg dituduh PKI, sehingga korban dari tragedi ini sangat kecil di tanah Pasundan. Berikut pendapat Prof. Ben Anderson (Cornell Univ.) yang membandingkan
Kodam Siliwangi dengan Kodam Diponegoro: Dari dulu ada persaingan antara Diponegoro dan Siliwangi.

Perwira Siliwangi dianggap orang yang statusnya lebih tinggi, biasa pakai bahasa Belanda diantara mereka sendiri dan biasa kebarat-baratan, dan paling dekat dengan Amerika. Perwira Jawa Tengah sebagian besar berasal dari Peta, bikinan Jaman Jepang. Waktu revolusi mereka merasa diri sebagai orang Jogya lah. Orang yang mempertahankan nilai-nilai dari revolusi 45, patriotisme Jawa, dsb. Pokoknya kalau jenderal-jenderal Bandung omong, mereka tidak pernah pakai?ken, ken. Tapi ini bukan masalah suku. Karena tokoh utama dari semuanya itu orang Jawa.

Kemudian pada tahun 1978 ketika TNI mulai digunakan sebagai jagal aksi mahasiswa, mahasiswa ITB mulai melakukan demo dan memasang spanduk sepanjang 50 meter dipagar kampus ITB dengan tulisan menyolok :”tidak mempercayai lagi kepemimpinan Suharto”, Himawan Sutanto, Pangdam Siliwangi saat itu membiarkan saja. Pendudukan kampus ITB yg pertama, Prajurit Siliwangi yang dikirim ke ITB bukannya menertibkan mahasiswa, malah berbaur main gaple dengan mahasiswa . Himawan menyebut kebijakannya dengan strategi pendekatan tak langsung, diilhami teori Liddle Hart (strategy of indirect approach) , yang kelihatannya berhasil menjinakkan mahasiswa ITB ketika itu . Tetapi para kolega dan atasannya Himawan di Jakarta mulai panik dan mendirikan “crisis centre”. Perintah lebih tegas dari Jakarta akhirnya memaksa Siliwang bertindak lebih ketat, Saifi Rosad yg saat itu masih mahasiswa mengatakan Siliwangi
nampak setengah hati, ketika popor senjata mengenai kepalanya si prajurit meminta maaf. Yang mengejutkan ketika mahasiswa terdesak, para demonstran menyanyikan lagu Indonesia Raya, para prajurit Siliwangi nampak tertegun dan terharu. Beberapa malah menitikkan air mata. Akhirnya para prajurit keluar dari kampus ITB. Sikap Siliwangi dianggap gagal oleh Jakarta, Akhirnya dikirim Divisi Brawijaya yang baru pulang dari Timor Leste. Perlakuan pun berbeda, mahasiswa yg menyangka penjaga kampus mereka adalah Siliwangi dengan santai masuk kampus jelas terkaget-kaget menghadapi sikap tentara yg kali ini sadis dan brutal. Seorang mahasiswi bahkan diseret dengan dijambak rambut, bahkan di injak-injak, sementara rumah Prof Dr Iskandar Alisjahbana, Rektor ITB saat itu ditembaki oleh tentara. Karier Himawan Sutanto pun akhirnya redup karena kebijakannya yang betul-betul bijak. Saya mendapat cerita pribadi dari seorang perwira Siliwangi yg dikirim ke Aceh. Saat itu dia menangkap sekelompok GAM yg didalamnya ada wanita hamil. Atas perintah atasan, supaya ga
nyusahin bawa-bawa ibu hamil di tengah hutan, perintah atasannya
adalah “sekolahin” aja, yg artinya eksekusi mati. Bertentangan
dengan nuraninya, dia bawa ibu yg lagi hamil tua ini turun gunung dan dibawa ke rumah sakit di Banda Aceh. Ga cuma itu, dia nungguin sampai si ibu melahirkan dan menanggung semua biaya persalinan. Atas jasanya si ibu menamai anaknya dengan nama perwira tersebut. Melihat sikapnya yg melawan atasan, saya ragu kariernya akan secemerlang nuraninya. Lalu apakah Divisi kebanggaan rakyat Pasundan ini tidak pernah memiliki aib?! ada 1 aib yg mengganjal. Selama era suharto, tidak pernah sekalipun Divisi Siliwangi mengundang A.H. Nasution hingga akhir hayatnya pada tiap acara-acara besar Siliwangi. Padahal beliau adalah komandan pertama Siliwangi.

Banyak divisi lain berusaha menandingi Siliwangi. Banyak dari mereka berpikir bahwa bertindak lebih brutal dan lebih bringas dalam setiap tugas akan mengalahkan pamor Siliwangi. Namunmereka lupa 1 hal, Divisi Siliwangi bukan hanya prajurit yang memenangkan peperangan, tapi lebih utama, mereka memenangkan hati rakyat. Prajurit Siliwangi nampaknya sadar betul, bahwa nama dibalik divisinya, besar dan dicintai bukan karena luasnya daerah kekuasaan seperti majapahit, bukan karena kekejamannya seperti sultan agung, bukan karena hartanya yg melimpah seperti suharto, tapi karena kedekatannya dengan rakyat dan sikap adil dengan nurani.

Semoga tulisan ini menggugah kita semua, bahwa untuk menjadi
kesatria-kesatria Sunda, bukan masalah banyak atau tidak, bukan
masalah jago silat atu tidak. Adalah sikap dan perilaku kita yang
menentukan kesatria atau tidak. Jangan pernah tertunduk akan
jati diri kita sebagai anak cucu Siliwangi.


About this entry