Biografi Tan Malaka (1894-1949)

Oleh :Sabam Siagian (Pengamat sejarah politik nasional)

Sebuah lembaga penelitian Belanda KITLV (singkatan dari Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde – Lembaga Kerajaan untuk Penelitian Masalah Bahasa, Geografi dan Bangsa-bangsa) yang berkantor pusat di Leiden, meluncurkan terbitan monumental. Hasil karya se- orang peneliti senior Dr Harry A Poeze di lembaga tersebut tentang kegiatan politik tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang berhaluan kiri, Tan Malaka, antara tahun 1945 sampai dengan awal 1949 itu, terbit dalam tiga jilid.

Isinya lebih dari 2.000 (dua ribu) halaman. Judulnya saja agak mencerminkan simpati penulis kepada subjeknya: Verguied en Vergeten- Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesia Revolutie, 1935-1949 (Dihujat dan Dilupakan-Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia, 1945-1949).

Tiga jilid yang baru terbit ini merupakan Bagian II. Bagian I diterbitkan pada 1976 dan menggambarkan perjalanan hidup Tan Malaka sejak lahir di Sumatera Barat (1894) dari tahun 1897 sampai berakhirnya pendudukan militer Jepang di Pulau Jawa pada 1945.

Bagian I itu yang berjudul Tan Malaka; Pejuang Kemerdekaan Indonesia, Perjalanan Hidupnya 1897-1945 (terjemahan Indonesia), sebenarnya merupakan disertasi Harry Poeze untuk mencapai gelar doktor dalam ilmu politik di bawah asuhan Prof Wertheim di Universitas Amsterdam.

Guru besar ini, yang pernah bertugas sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (RHS) di Jakarta (Batavia) sebelum 1942, dikenal sebagai pemuja gerakan kiri di Indonesia. Dr Poeze telah mengumpulkan sejumlah besar bahan dan mewawancarai tokoh-tokoh yang masih hidup yang mengenal Tan Malaka. Karena dia juga sibuk sebagai direktur penerbitan lembaga KITLV, ia memerlukan sekitar 10 tahun untuk menyelesaikan tahap riset dan penulisan karya besar itu.

Ketika Bagian II dari biografi Tan Malaka ini diluncurkan di Jakarta pada 30 Juli lalu di Gedung Joang 45, Jalan Menteng Raya no 31, Jakarta, Dr Harry Poeze tampak hadir. Pertemuan itu diselenggarakan bersama oleh Pusat Studi, Penerbitan dan Pustaka Demokrasi (Pusbitdem) dan KITLV. Saya diundang, karena sejak dulu selama menjadi mahasiswa pada 1950’an di Universitas Indonesia, memang sudah tertarik pada tulisan dan biografi Tan Malaka yang pada waktu itu tidak begitu mudah memperolehnya. Dr Roger Toll, Kepala Perwakilan KITLV di Jakarta bermurah hati mengirim satu set Bagian II biografi Tan Malaka yang terdiri dari tiga jilid.

Ternyata bahasa Belanda saya yang dulu harus dipergunakan secara aktif ketika menjadi pelajar di sebuah SMA berbahasa Belanda di Jakarta belum berkarat sehingga masih dapat menikmati cerita Dr Poeze tentang kegiatan politik Tan Malaka (1945-1949) yang ditulis secara menarik. Meskipun kadang-kadang terlalu dibebani fakta-fakta yang jelimet yang justru cenderung mengaburkan gambaran Tan Malaka selama tahun-tahun Revolusi Indonesia itu.

Jelas, penulis kolom ini bukan sejarawan profesional. Catatan-catatan ini sekadar menarik perhatian Anda agar mengetahui, ada saja ilmuwan asing yang begitu getol meneliti perjalanan hidup seorang tokoh politik Indonesia yang hampir terlupakan, sehingga mampu menerbitkan karya yang berjilid-jilid. Apakah karya yang merupakan produksi besar itu memang relevan dalam keseluruhan kerangka sejarah Revolusi Indonesia, masalah itu patut diteliti oleh para sejarawan Indonesia.

Kebetulan saya berjumpa dengan Dr Taufik Abdullah, pakar sejarah modern Indonesia yang juga mendapat kiriman satu set Bagian II biografi politik Tan Malaka. “Tugas Andalah untuk mengupas karya Dr Poeze ini sebagai sejarawan profesional,” ujar saya kepada Bung Taufik.

Siapa sebenarnya Tan Malaka? Nama lengkapnya adalah Ibrahim gelar Datoek Tan Malaka. Tahun kelahirannya, menurut Dr Poeze, diduga 1894 di Desa Pandan Gadang. Ia menjadi pelajar sekolah pendidikan guru. Karena cerdas, ia dikirim ke Negeri Belanda dan mengikuti pendidikan guru lanjutan di Kota Haarlem, 1913-1915.

Karena Perang Dunia I berkecamuk di Eropa (1914-1918), Tan Malaka terhalang pulang ke Tanah Air. Ia terpaksa hidup berdikari dan selama tahun-tahun itu berkenalan dengan ideologi sosialisme dan komunisme. Pada 1920 Tan Malaka akhirnya pulang ke Tanah Air dan menjadi guru di sekolah yang didirikan oleh perusahaan perkebunan Eropa di Sumatera Timur.

Gajinya setaraf dengan gaji seorang guru Belanda. Ia tidak tahan melihat tindasan yang diderita para kuli perkebunan yang didatangkan dari Pulau Jawa. Pada Februari 1921 Tan Malaka minta berhenti dan pindah ke Semarang, di mana sebuah partai baru, Partai Komoenis Indonesia (PKI) belum lama berdiri. Partai baru itu muncul dari ribaan Sarekat Islam (SI) dan ingin terus berlindung di belakangnya sambil melakukan kegiatan agitasinya.

Tan Malaka segera aktif menyelenggarakan pendidikan cuma-cuma kepada anak-anak rakyat jelata, menulis pamflet-pamflet, dan mendorong berbagai pemogokan. Akhirnya PKI dipisahkan dari SI, dan peranan Tan Malaka sebagai agitator komunis menjadi mencolok bagi polisi rahasia Hindia Belanda.

Dengan keputusan gubernur jenderal, ia dikenakan hukuman pembuangan. Tan Malaka memilih Negeri Belanda sebagai tempat pengasingannya pada Maret 1922. Dari sana ia ke Moskwa dan mengikuti program pendidikan partai komunis.

Tan Malaka menghadiri Kongres International Partai-partai Komunis (Kominform) di Moskwa pada November 1922. Ia kemudian diangkat sebagai Wakil Kominform untuk seluruh Asia Tenggara. Maka mulailah pengembaraannya selama 20 tahun, diuber-uber polisi rahasia di Manila, Hong Kong, Bangkok, Singapura, dan ibu kota lainnya sebelum ia kembali ke Tanah Air pada 1942 setelah militer Jepang menguasai Asia Tenggara.

Yang penting dicatat selama periode itu adalah brosur yang ditulis dan diterbitkannya pada 1924 dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Judulnya: “Menuju Republik Indonesia”. Meskipun brosur itu terpaksa harus diselundupkan ke Indonesia dan beredar secara terbatas, dampaknya di kalangan pergerakan kebangsaan amat besar. Untuk pertama kalinya konsep “Republik Indonesia” dicanangkan.

Karena berbagai persoalan (terlalu jelimet untuk diterangkan di sini), pada tahun 1927 Tan Malaka putus arang dengan Moskwa.

Pada Juli 1927, Tan Malaka dengan beberapa kawannya mendirikan Partai Repoeblik Indonesia (PARI) di Bangkok. Diusahakan untuk mendirikan cabang-cabang di beberapa tempat di Indonesia, tapi dengan mudah ditumpas oleh polisi rahasia Hindia Belanda.

Demikianlah Tan Malaka meneruskan pengembaraannya, sampai-sampai ke Tiongkok Selatan dan berkembang sebagai seorang komunis-nasionalis, seperti juga pemimpin Vietnam, Ho Chi Minh.

Sekadar beberapa catatan saja tentang Bagian II biografi Tan Malaka. Pertanyaan besar agaknya: Kenapa dia tidak berperan pada periode menuju Proklamasi 17 Agustus 1945 dan pada awal RI berdiri? Tan Malaka sudah berumur 51 tahun ketika Proklamasi, lebih tua dari tokoh-tokoh politik lainnya. Ia baru muncul di Jakarta (dari persembunyian di Banten Selatan) seminggu setelah Proklamasi pada 25 Agustus 1945 di rumah Mr Subardjo di Jalan Cikini, Jakarta.

Beberapa catatan Harry Poeze tentang profil Tan Malaka agaknya membantu, karena pada saat-saat bersejarah selama tahun-tahun awal RI itu, Tan Malaka seperti dilewati oleh dinamika politik dan tidak menonjol di panggung peristiwa. Pada halaman 39 ditulis “betapa selama bertahun-tahun Tan Malaka hidup sebagai orang perburuan sehingga sebenarnya dia tidak mampu lagi hidup secara normal…”

Kemudian dicatatnya di halaman 866 bahwa “kecenderungan merahasiakan segala sesuatunya dan sikap terlalu hati-hati mendominasi karakter Tan Malaka”. “Ia seorang revolusioner yang kesepian (een eenzame revolutioner), menurut Poeze dalam bab Penutup (halaman 2005).

Ia ditangkap pada Maret 1946 di Madiun oleh pendukung PM Sutan Syahrir, karena dituduh mengorganisir agitasi terhadap Kabinet Syahrir, yang menyulitkan diplomasi yang sedang berlangsung dengan pihak Belanda. Tan Malaka baru dibebaskan pada September 1948 sebagai pengimbang terhadap gerakan PKI-Muso.

Setelah serangan umum Belanda 19 Desember 1948 ketika Yogya diduduki, maka sebagai keputusan politik, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh Hatta dan sejumlah anggota kabinet tidak meninggalkan ibu kota. Mereka menjadi tahanan militer Belanda.

Tan Malaka yang bergerak di Jawa Timur, di daerah sebelah barat Kota Kediri, seberang Kali Brantas melakukan agitasi bahwa kepemimpinan Soekarno-Hatta sudah berakhir. Pada 9 Februari 1949 di Desa Tegoran, menurut undangan diacarakan rapat koordinasi para komandan yang bergerilya di daerah itu.

Ternyata, rapat itu menjadi ajang agitasi politik bagi Tan Malaka (dengan nama samaran Pak Usin) yang berpidato selama lebih sejam. Pada malam itulah tanpa dinyatakan secara formal dibentuk Gabungan Pembela Proklamasi. Ia juga rajin mengedarkan pamflet-pamflet politik yang ditulisnya sendiri dengan alamat “Markas Murba Terpendam”. Salah satu pamflet itu mencerca para perwira TNI, antara lain nama Kol Sungkono disebut, komandan Jawa Timur, “yang lari terbirit-birit ke Gunung Wilis diuber pasukan Belanda”.

Di periode perang gerilya menghadapi Belanda pada belahan pertama tahun 1949 di mana hukum militer berlaku, sikap komandan setempat menghadapi agitasi yang diorganisir oleh Tan Malaka, termasuk menyusun kekuatan bersenjata, dan tidak mengakui lagi kepemimpinan Soekarno-Hatta ataupun PRRI di Sumatera, sudah dapat diramalkan. Letkol Surachmad, komandan “Wehrkreisse” di daerah tersebut mengeluarkan surat perintah rahasia yang mencap gerakan Tan Malaka sebagai mengancam eksistensi RI. Ia lapor kepada Kol Sungkono bahwa tindakan keras akan dilakukan terhadap Tan Malaka dan pengikutnya.

Pada malam 21 Februari 1949, Letnan Dua Sukotjo dan anak buahnya menangkap Tan Malaka di Desa Selongpanggung, dekat Tonggoel. Tan Malaka dieksekusi oleh anak buahnya bernama Suradi Tekebek. Poeze berhasil menggali fakta-fakta itu setelah bertahun-tahun melakukan penelitian dan mengunjungi lokasinya.

Ia ungkapkan emosinya sedikit dan tinggalkan objektivitasnya sebagai ilmuwan sejarah ketika di catatan kaki halaman 1466 ia memakai istilah “pembunuh Tan Malaka” (moordenaar) dan kata “schuld” (rasa bersalah). Padahal di bagian lainnya, penulis akui bahwa hukum militer berlaku dalam situasi perang melawan Belanda.

Sayang Dr Harry Poeze tidak mengutip kenangan Abu Bakar Lubis pada Tan Malaka dalam bukunya Kilas Balik Revolusi (Jakarta, 1992). Sebagai pemuda pejuang, ia mengenal Tan Malaka dan membaca karya politiknya. Lubis menulis: “Tan Malaka hidup lebih dari dua puluh tahun dalam pengasingan, penjara, atau persembunyian. Tidaklah heran kita, bahwa seorang yang hidup begitu lama dalam kesepian mempunyai dunia sendiri yang tidak sepi dengan cita-cita, impian dan khayalan, mengejar suatu utopia. Karena itu mungkin sekali ia tidak selalu bergerak dan mengambil si- kap yang berpijak pada kenyataan….”

Biografi Tan Malaka

Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 – wafat di Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun[1]) adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin komunis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.

Dia kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan komunis, ia juga sering terlibat konflik dengan kepemimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan komunis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai “Pahlawan revolusi nasional” melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963.

Riwayat

  • Saat berumur 16 tahun, 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda.
  • Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.
  • Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik
  • Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai.
  • Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke Kupang.
  • Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda.

Perjuangan

Tan Malaka juga seorang pendiri partai Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat.

Tokoh ini diduga kuat sebagai orang di belakang peristiwa penculikan Sutan Sjahrir bulan Juni 1946 oleh “sekelompok orang tak dikenal” di Surakarta sebagai akibat perbedaan pandangan perjuangan dalam menghadapi Belanda.

Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.

Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.

Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.

Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia”. Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.

Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….”

Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.

Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta.

Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya[1].

Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949.

Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.

Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur berdasarkan serangkaian wawancara yang dilakukan pada periode 1986 sampai dengan 2005 dengan para pelaku sejarah yang berada bersama-sama dengan Tan Malaka tahun 1949. Dengan dukungan dari keluarga dan lembaga pendukung Tan Malaka, sedang dijajaki kerja sama dengan Departemen Sosial Republik Indonesia untuk memindahkan kuburannya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tentu untuk ini perlu tes DNA, misalnya. Tetapi, Depsos dan Pemerintah Provinsi Jatim harus segera melakukannya sebelum masyarakat setempat secara sporadis menggali dan mungkin menemukan tulang belulang kambing yang bisa diklaim sebagai kerangka jenazah sang pahlawan nasional.

Tidak kurang dari 500 kilometer jarak ditempuh ribuan orang selama dua bulan dari Madiun ke arah Pacitan, lalu ke Utara, sebelum akhirnya mereka, antara lain Amir Sjarifuddin, ditangkap di wilayah perbatasan yang dikuasai tentara Belanda. Ia juga menemukan arsip menarik tentang Soeharto. Selama ini sudah diketahui bahwa Soeharto datang ke Madiun sebelum meletus pemberontakan. Soemarsono berpesan kepadanya bahwa kota itu aman dan agar pesan itu disampaikan kepada pemerintah. Poeze menemukan sebuah arsip menarik di Arsip Nasional RI bahwa Soeharto pernah menulis kepada ”Paduka Tuan” Kolonel Djokosoejono, komandan tentara kiri, agar beliau datang ke Yogya dan menyelesaikan persoalan ini. Soeharto menulis ”saya menjamin keselamatan Pak Djoko”. Dokumen ini menarik karena ternyata Soeharto mengambil inisiatif sendiri sebagai penengah dalam peristiwa Madiun. Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur. Lokasi tempat Tan Malaka disergap dan kemudian ditembak adalah Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis.

Madilog

Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.

Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.

Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.

Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.

Menilik Kembali Biografi Tan Malaka
Minggu, 11 Januari 2009
Judul Buku :
Tan Malaka; Biografi Singkat 1897-1949

Penulis :
Taufik Adi Susilo

Penerbit :
Garasi, Yogyakarta

Jumlah Halaman :
183 Halaman

Peresentasi:
Lukman Santoso Az*

Menulis biografi lengkap seorang tokoh besar yang sudah meninggal puluhan tahun, mungkin tak semudah menulis biografi (pesanan) seorang penguasa/pengusaha yang masih hidup. Taufik Adi Susilo menyuguhkan biografi singkat Tan Malaka 1897-1949, seorang revolusioner yang militan, sekaligus konsisten terhadap gagasannya dalam mengobarkan spirit nasionalisme melawan penindasan dan ketidak adilan kaum penjajah.
Tan Malaka adalah teladan tokoh revolusi kiri, yang nasionalis, radikal, sekaligus revolusioner. Namun sayang, perannya dalam kemerdekaan Indonesia ‘sengaja’ dikaburkan dan dihilangkan oleh rezim Orde Baru dari catatan sejarah dan album pahlawan nasional. Padahal segudang ide-ide dan pemikirannya yang bernas telah berperan besar dalam mengantarkan bangsa ini nenutup celah demi celah kolonialisme di bumi pertiwi. Ia telah menjadi korban sekaligus pejuang dalam sejarah.

Lewat buku ini, penulis mencoba menyingkap secara gamblang dan komprehensif mengenai kehidupan Tan Malaka, posisi pentingnya dalam perjuangan kemerdekaan, ide-ide brilian yang radikal, orisinil dan revolusioner yang telah mengawal langkah juang para pahlawan kemerdekaan, pahit getirnya kehidupan yang dilaluinya, berikut kisah cintanya yang tulus dan sepi pamrih kepada bumi pertiwi.

Dalam lintasan sejarah, Tan Malaka merupakan satu-satunya tokoh PKI yang tidak setuju dengan rencana pemberontakan PKI yang kemudian meletus tahun 1926/1927 sebagaimana ditulisnya dalam buku Naar de Republiek Indonesia (1925). Perpecahan dengan Komintern mendorong Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok pada Juni 1927.

Walaupun bukan partai massa, organisasi ini dapat bertahan sepuluh tahun; pada saat yang sama partai-partai nasionalis di Tanah Air lahir dan mati. PARI dianggap berbahaya oleh intel Belanda dan aktivisnya diburu. Selama satu dekade PARI mengembangkan sel mereka di kota-kota penting dan di daerah seperti Cepu, Wonogiri, Kediri, Sungai Gerong, Palembang, Medan, Banjarmasin, dan Riau.

Selain itu, berbagai ide-ide cemerlang Tan Malaka yang menembus nalar kebanyakan anak zaman telah juga menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Melalui karyanya Naar de Republiek Indonesia (1924) dan Massa Actie (1926), mampu menyulut semangat para pemuda dan tokoh pergerakan untuk memperjuangkan kemerdekaan 100 persen dari segala bentuk penjajahan.

Gagasan cemerlang Tan Malaka itu juga tampak pada karya monumentalnya, yakni MADILOG (Materialisme-Dialektika-Logika), buku inilah yang menjadi magnum opus-nya. Madilog ditulis Tan Malaka dalam jangka waktu 8 bulan, atau 720 jam, dengan rata-rata 3 jam sehari dalam persembunyiannya di desa Rawajati, Kalibata, Jakarta. Ditulis sejak 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943.

Madilog merupakan manifestasi simbol kebebasan berpikir Tan Malaka. Ia bukan dogma yang biasanya harus ditelan begitu saja tanpa reserve. Disinilah filsafat idealisme dan materialisme ala Barat dan konsep rantau ala Minangkabau disintesiskan Tan Malaka. Lembar demi lembar buku Ia tulis dibawah suasana kemiskinan, penderitaan dan kesepian yang begitu ekstrim.

Madilog berawal dari kegelisahan Tan Malaka dalam memahami nasib bangsanya sebagai resultan feodalisme, kolonialiasme, dan kepercayaan terhadap takhayul yang bercampur ilmu akhirat yang tanggung. Madilog memberi jalan keluar dengan mengenalkan dialektika-materialisme dalam tradisi keilmuan Barat, dengan menonjolkan penguatan logika sebagai tahap awal. Pada dasarnya, Madilog berupaya menawarkan satu kerangka pikir modern sebagai alat pembongkar (dekonstruksi dan rekonstruksi) bongkahan keterbelakangan intelektual masyarakat Indonesia pada masa itu.

Yandry Kurniawan Kasim (2008), mengatakan bahwa gagasan Tan Malaka, sejatinya dapat dipahami dan dimaknai secara lebih proporsional pada dua tataran, yakni filosofis dan strategis. Pada tataran filosofis, gagasan Tan Malaka begitu progresif dan visioner, melampaui zamannya.

Pada tataran strategis, gagasan Tan Malaka begitu radikal, non-kooperatif, bahkan konfrontatif dengan highest call yang begitu tinggi, seperti dituangkan dalam Minimum Program yang dicanangkannya tahun 1946. Gagasan pada tataran ini dapat ditelaah dari dua sisi pandang. Pertama, tuntutan radikal, non-kooperatif, dan konfrontatif akan berguna dalam membakar semangat persatuan dan perjuangan kaum muda dalam mempertahankan republik yang masih belia. Kedua, dari sisi pragmatisme penyelenggaraan negara yang baru lahir beserta seluruh keterbatasan sumber daya dan faksionalisme yang begitu tajam, Minimum Program menafikan realitas sifat hubungan antarnegara dalam sistem internasional.

Terlepas dari itu, gagasan Tan Malaka merupakan wujud pemikiran orisinal anak bangsa yang ditujukan untuk kemajuan peradaban bangsanya dan mendapat tempat yang mendunia. Maka, keseluruhan gagasan Tan Malaka harus diapresiasi sebagai sebuah kesempurnaan olah akal dan budi sehingga harus dilestarikan dalam cawan khazanah intelektual bangsa Indonesia. Dalam konteks kekinian, ada dua pilihan moderat untuk melestarikan gagasan Tan Malaka.

Pertama, mempopulerkannya sebagai kajian akademik, khususnya di perguruan-perguruan tinggi. Gagasan Tan Malaka akan memperkaya ilmu sosial dan politik yang telah berkembang di Indonesia. Kedua, menjadikannya sebagai rujukan dalam setiap bentuk moral enterpreneur dalam setiap gerakan civil society berdampingan secara harmonis dengan paham-paham humanisme lainnya.

Dari paparan buku setebal 183 halaman ini, tampaknya jelas, bahwa Tan Malaka lebih cocok disebut sebagai seorang nasionalis dari pada komunis. Hanya saja ia memiliki ciri khas tersendiri dalam menuangkan ide-ide nasionalismenya, sehingga membedakannya dengan tokoh-tokoh lain. Dalam pemikiran Tan Malaka terdapat konvergensi antara ideologi Marxisme yang mengedepankan solidaritas, dengan ideologi nasionalisme yang memiliki ciri khas kebangsaan. Sehingga menekankan aspek persatuan diantara sesama warga bangsa, apapun afiliasi politik maupun ideologinya.

Akhirnya, meski Tan Malaka sudah meninggal sejak puluhan tahun silam, tampaknya gagasannya masih selalu aktual dan relevan sampai sekarang. Apalagi di era setelah reformasi ini, yang ekonomi, kekayaan alam, bumi, air, dan aset-aset bangsa lainnya semakin dikuasai modal asing. Syahdan seorang bijak pernah berkata, ”revolusi memakan anak kandungnya sendiri”, dan Tan Malaka adalah anak kandung yang menjadi korban revolusi perjuangan bangsanya sendiri. Ia menjadi korban meski seluruh hidup dan kehidupannya telah didedikasikan untuk menuju Indonesia yang merdeka 100 persen.***

Tan Malaka Ditembak di Jatim

Posted by: hujanderas on: 30 Juli, 2007

http://jawapos. com/index. php?act=detail_ c&id=296886

Oleh Asvi Warman Adam

Pada 30 Juli 2007 (hari ini) pukul 10 pagi di Gedung Joang, Jakarta, buku
Harry Poeze “Verguisd en Vergeten, Tan Malaka, De linkse Beweging en
Indonesische Revolutien 1945-1949″ (Dihujat dan Dilupakan: Tan Malaka,
Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949) diluncurkan. Buku setebal
2.194 halaman itu berharga 99,90 euro (sekitar Rp 1,2 juta). Kisah revolusi
Indonesia tahun 1945-1949 di pulau Jawa tergambar dengan detail dalam buku
klasik itu.

Setelah menulis disertasi mengenai Tan Malaka 1976 yang diterjemahkan ke
bahasa Indonesia dalam dua jilid berjudul Pergulatan Menuju Republik
1897-1925 (tahun 1988, diberedel tahun 1989) dan Pergulatan Menuju Republik
1925-1945 (tahun 1999), Poeze melanjutkan kisah perjalanan hidup sampai
akhir hayat Tan Malaka pada 1949. Tan Malaka boleh dikatakan subjek
penelitian seumur hidup Harry Poeze, peneliti senior sekaligus direktur
penerbitan KITLV Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, perjuangan Tan Malaka mengalami pasang naik dan
pasang surut. Dia memperoleh testamen dari Bung Karno untuk menggantikan
bila yang bersangkutan tidak dapat menjalankan tugas. Namun, pada 1948, Tan
Malaka dikenal sebagai penentang diplomasi dengan Belanda yang dilakukan
pemerintah Indonesia dalam posisi merugikan. Sebagai pemimpin persatuan
perjuangan, dia menuntut agar perundingan baru dilakukan bila Belanda
mengakui kemerdekaan Indonesia 100 persen.

Pada 7 November 1948, dia mendirikan Partai Murba. Setahun kemudian, Tan
Malaka ditembak. Dalam Pemilu 1955, Murba ikut pemilu dan hanya mendapatkan
dua kursi di parlemen.

Namun, kedudukan partai itu kembali menguat ketika Bung Karno menjalankan
demokrasi terpimpin. Soekarno menghadiri kongres Murba pada Desember 1950.

Tiga anggota partai atau simpatisannya yang masuk kabinet, yaitu Prijono,
Adam Malik, dan Chaerul Saleh. Puncaknya adalah tanggal 28 Maret 1963,
Presiden Soekarno mengangkat Tan Malaka sebagai pahlawan nasional.

Dihapus Orde Baru
Namun, sejak era Orde Baru, namanya dihapus dalam pelajaran sejarah yang
diajarkan di sekolah. Gelar pahlawan nasional itu tidak pernah dicabut.
Tetapi, dalam buku teks sejarah dia tidak boleh disebut. Menurut istilah
seorang peneliti departemen sosial, Tan Malaka menjadi “off the record”
dalam sejarah Orde Baru.

Rezim Orde Baru menganggap Tan Malaka sebagai tokoh partai yang dituduh
terlibat pemberontakan beberapa kali. Hal tersebut merupakan kebodohan Orde
Baru. Tan Malaka justru menolak pemberontakan PKI 1926/1927 sebagaimana
ditulisnya dalam Naar de Republiek Indonesia (Kanton, April 1925 dan dicetak
ulang di Tokyo, Desember 1925). Dia sama sekali tidak terlibat dalam
peristiwa Madiun 1948. Bahkan, dalam berbagai peristiwa, Murba berseberangan
dengan PKI.

Menjelang 1980, terjadi arus balik penulisan sejarah Tan Malaka, terutama
melalui tulisan akademisi Harry Poeze di Belanda dan Helen Jarvis di
Australia. Agustus 1977, jurnal Prisma menerbitkan nomor khusus “Manusia
dalam Kemelut Sejarah” yang memuat tulisan Alfian “Tan Malaka: Pejuang
Revolusioner yang kesepian”. Disertasi Poeze diterbitkan sebagian Gafiti
pada 1988 dan setahun kemudian dilarang oleh jaksa agung setelah terjual
2.700 eksemplar.

Mobilitas perjuangan Tan Malaka secara intensif “tanpa henti selama 30
tahun” tergambar dari kota yang disinggahinya (di dalam negeri) dari Pandan
Gadang (Suliki), Bukit Tinggi, Batavia, Semarang, Yogya, Bandung, Kediri,
hingga Surabaya; dan (di luar negeri) dari Amsterdam, Berlin, Moskow, Amoy,
Shanghai, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok, Hongkong, Singapura, Rangon,
sampai Penang.

Setelah kegagalan pemberontakan 1926/1927, Tan Malaka mendirikan PARI
(Partai Republik Indonesia) di Bangkok pada 1 Juni 1927. Walaupun bukan
partai massa, organisasi itu dapat bertahan hidup selama sepuluh tahun.
Padahal, pada saat yang sama, partai-partai nasionalis di tanah air lahir
dan mati.

PARI dianggap berbahaya dan aktivisnya diburu-buru oleh intelijen Belanda.
Selama satu dekade, PARI dapat mengembangkan sel mereka di kota-kota penting
dan di kota kecil, seperti Cepu, Wonogiri, Kediri, Sungai Gerong, Palembang,
Medan, Banjarmasin, dan Riau.

Meskipun awalnya gerakan Tan Malaka menentang kolonialisme terkait dengan
kegiatan Komintern, pada gilirannya, dia melontarkan kritik. Tan Malaka
tidak sepaham dengan Komintern yang menentang pan-Islamisme. Menurut
Komintern, pan-Islamisme adalah bentuk baru imperalisme, padahal sebaliknya,
kata Tan Malaka.

Rehabilitasi Tan Malaka
Cetakan ulang buku biografi Tan Malaka jilid 1 dan penerbitan jilid 2 (1999)
baru bisa terbit pada era Reformasi. Kemudian, muncul berbagai buku,
termasuk beberapa skripsi mengenai pemikiran Tan Malaka. Madilog diterbitkan
ulang dan dibahas secara panjang lebar oleh Ignas Kleden.

Frans Magnis-Suseno menulis Dalam Bayangan Lenin, Enam Pemikiran Marxisme
dari Lenin sampai Tan Malaka. (2003). Buku Naar de Republiek Indonesia
dikagumi Daniel Dhakidae karena mengandung strategi militer. Di Sumatera
Utara, diterbitkan ulang sebuah novel terbitan 1940, berjudul Tan Malaka di
Medan karya Emnast (Muchtar Nasution). Penerbit Ombak Yogyakarta minggu lalu
menerbitkan karya Dr Zulhasril Nasir, Tan Malaka dan Jaringan Kiri
Minangkabau di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur. Dengan
dukungan dari keluarga dan lembaga pendukung Tan Malaka, dia sedang
menjajaki kerja sama dengan Departemen Sosial RI untuk memindahkan makamnya
ke Taman Pahlawan Kalibata. Hal itu, sebelumnya, perlu dilakukan pula
investigasi forensik, misalnya dengan test DNA.

Lokasi tempat Tan Malaka disergap dan kemudian ditembak adalah desa T,
sebuah desa yang memanjang sejajar dengan jalan yang menghampar di punggung
terusan gunung Wilis. Penembakan itu dilakukan oleh ST atas perintah letnan
dua S.

Pada masa selanjutnya, S pernah menjadi wali kota di sebuah kota besar di
Jawa Timur dan terakhir berpangkat Brigjen, meninggal 1980-an. Penembakan
tersebut bukanlah atas perintah pucuk pimpinan tentara karena tidak ada
perbedaan strategi perjuangan antara Tan Malaka dan Jenderal Sudirman, namun
memperlihatkan adanya faksi di kalangan tentara nasional akibat situasi
politik semasa revolusi.

Pengungkapan sejarah itu bukanlah untuk pengusutan hukum, melainkan demi
rehabilitasi nama baik seorang pahlawan nasional yang seyogianya
disemayamkan di taman makam pahlawan bukan di tempat yang tidak jelas
rimbanya. Semoga pemerintah Provinsi Jatim dapat memfasilitasi kegiatan
luhur itu.

Dr Asvi Warman Adam, (pengurus pusat Masyarakat Sejarawan Indonesia)

Biografi tan malaka

Karya Harry Poeze yang judulnya berarti Dihujat dan Dilupakan: Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949

sungguh luar biasa dari segi kuantitas dan kualitas. Terdiri atas tiga jilid setebal 2.194 halaman, buku ini bukan saja menggunakan dokumen Indonesia dan Belanda, tetapi juga arsip Rusia. Ini merupakan biografi terbesar dalam sejarah modern Indonesia.
Kalau dihitung total halaman, tulisan Poeze mengenai Tan Malaka menjadi lebih dari 3.000 halaman. Pejuang antikolonialisme Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, tahun 1896. ia menempuh pendidikan Kweekschool di Bukittinggi sebelum melanjutkan pendidikan ke Belanda. Pulang ke Indonesia tahun 1919 ia bekerja di perkebunan Tanjung Morawa, Deli. Penindasan terhadap buruh menyebabkan ia berhenti dan pindah ke Jawa tahun 1921. Ia mendirikan sekolah di Semarang dan kemudian di Bandung.
Buku Madilog, misalnya, disusun dengan membaca literatur di perpustakaan nasional Jakarta dan membandingkan dengan pengalamannya sendiri berpuluh tahun di mancanegara. Ia tidak setuju dengan rencana pemberontakan PKI yang kemudian meletus tahun 1926/1927 sebagaimana ditulisnya dalam buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia, Kanton, April 1925 dan dicetak ulang di Tokyo, Desember 1925).
Walaupun bukan partai massa, organisasi ini dapat bertahan sepuluh tahun; pada saat yang sama partai-partai nasionalis di Tanah Air lahir dan mati. PARI dianggap berbahaya oleh intel Belanda dan aktivisnya diburu. Selama satu dekade PARI mengembangkan sel mereka di kota-kota penting dan di daerah seperti Cepu, Wonogiri, Kediri, Sungai Gerong, Palembang, Medan, Banjarmasin, dan Riau. Perjuangan Tan Malaka yang bersifat lintas bangsa dan lintas benua telah diuraikan secara rinci dalam dua jilid biografi yang ditulis Poeze.
Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur berdasarkan serangkaian wawancara yang dilakukan pada periode 1986 sampai dengan 2005 dengan para pelaku sejarah yang berada bersama-sama dengan Tan Malaka tahun 1949. Dengan dukungan dari keluarga dan lembaga pendukung Tan Malaka, sedang dijajaki kerja sama dengan Departemen Sosial Republik Indonesia untuk memindahkan kuburannya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tentu untuk ini perlu tes DNA, misalnya. Tetapi, Depsos dan Pemerintah Provinsi Jatim harus segera melakukannya sebelum masyarakat setempat secara sporadis menggali dan mungkin menemukan tulang belulang kambing yang bisa diklaim sebagai kerangka jenazah sang pahlawan nasional.
Tidak kurang dari 500 kilometer jarak ditempuh ribuan orang selama dua bulan dari Madiun ke arah Pacitan, lalu ke Utara, sebelum akhirnya mereka, antara lain Amir Sjarifuddin, ditangkap di wilayah perbatasan yang dikuasai tentara Belanda. Ia juga menemukan arsip menarik tentang Soeharto. Selama ini sudah diketahui bahwa Soeharto datang ke Madiun sebelum meletus pemberontakan. Soemarsono berpesan kepadanya bahwa kota itu aman dan agar pesan itu disampaikan kepada pemerintah. Poeze menemukan sebuah arsip menarik di Arsip Nasional RI bahwa Soeharto pernah menulis kepada ”Paduka Tuan” Kolonel Djokosoejono, komandan tentara kiri, agar beliau datang ke Yogya dan menyelesaikan persoalan ini. Soeharto menulis ”saya menjamin keselamatan Pak Djoko”. Dokumen ini menarik karena ternyata Soeharto mengambil inisiatif sendiri sebagai penengah dalam peristiwa Madiun. Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur. Lokasi tempat Tan Malaka disergap dan kemudian ditembak adalah Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis.

Jumat, 10 Juli 2009 | 22:57 WIB

Oleh Hendri F. Isnaeni*)

Pada tahun 1976 terbit Tan Malaka; Strijder voor Indonesie’s vrijheid; Levensloop van 1897 tot 1945 (Tan Malaka; Pejuang Kemerdekaan Indonesia; Perjalanan Hidup dari 1897-1945), yang merupakan disertasi Harry A. Poeze untuk Universiteit Amsterdam. Hadir di Indonesia dalam bentuk buku dengan judul Tan Malaka; Pergulatan Menuju Republik, 1897-1925 (Jakarta, 1988, 2000) dan Tan Malaka: Pergulatan Republik Indonesia, 1925-1945 (Jakarta, 1999). Poeze menyadari, penelitian yang dilakukannya mengandung sejumlah kekurangan. Harapannya dapat ditutupi dalam versi ulang pembahasannya. Karena itu, ia mulai mengumpulkan bahan-bahan selama tiga bulan tinggal di Indonesia dalam tahun 1980.

Poeze mengakui, menulis riwayat hayat dan pemikiran-pergerakan Tan Malaka merupakan suatu dahaga. Ia heran, karena ternyata masih sangat banyak kejadian yang belum dituliskan. Ia pun berusaha keras melakukan penelitian dan penulisan dengan memakan waktu selama sepuluh tahun. Hasilnya sebuah buku magnum opus dalam bahasa Belanda, yang terdiri dari tiga jilid berisi 2.200 halaman, dan terbit pada bulan Juni 2007, berjudul Verguisd en vergeten; Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949 (Dihujat dan dilupakan; Tan Malaka, gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia, 1945-1949).

Sejarah ini dituliskan dengan perkembangan politik dalam negeri Indonesia sebagai titik tolak. Sebagian besar buku yang mengupas sejarah Indonesia, memilih suatu sudut pandang, yang ditentukan oleh dimensi-dimensi internasional dari konflik dekolonisasi antara Indonesia dan Belanda, dengan peranan penting Inggris, Amerika Serikat, dan Perserikatan Bangsa Bangsa. Dengan demikian, Perjanjian Linggajati dan Perjanjian Renville, serta dua aksi militer Belanda berperan sebagai titik balik yang menentukann. Di dalam Republik Indonesia sendiri, kejadian-kejadian tersebut juga merupakan peristiwa penting. Tetapi yang lebih penting dan menentukan jalannya sejarah ialah perkembangan dan krisis internal. Hal itu yang menentukan hidup-matinya republik itu sendiri. Konflik di dalam republik antara “perjuangan” dan “diplomasi” itulah yang setiap kali berkobar. Tetapi kedua belah pihak tidak memiliki pengikut tetap. Sebagian besar, pada suatu ketika memilih satu pihak. Pada saat yang lain, pindah ke pihak lain. Di sini oportunitas politik memainkan peranan besar. Ini seperti permainan akrobat yang sulit. Tidak ada jaring pengaman, maka jumlah korban pun tidak sedikit.

Peristiwa-peristiwa sangat penting dalam kesimpangsiuran dalam negeri ialah persidangan parlemen sementara, Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dalam bulan Februari-Maret 1946, Persitiwa 3 Juli 1946, sidang KNIP tentang persetujuan Perjanjian Linggajati Februari-Maret 1947, pembentukan Kabinet Hatta Januari 1948, pemberontakan Madiun September-Oktober 1948, dan akhirnya reaksi-reaksi terhadap persetujuan Roem-Roijen Mei 1949, dan Konferensi Meja Bundar Desember 1949. Semua peristiwa itu dibicarakan panjang lebar dalam buku ini (hlm. vii-viii)

Dari gambaran itu, tentu kita tidak hanya menikmati perjalanan hidup Sang Kiri Nasionalis yang penuh misteri, tetapi juga bisa menyantap sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia. Tentu saja di setiap peristiwa itu, Tan Malaka memainkan peranan penting, baik mendominasi jalannya peristiwa maupun hanya menjadi bagian kecil saja. Menurut Poeze, buku ini berbeda dengan buku-buku sejarah yang pernah ada, karena Indonesia menjadi aktor utama yang menentukan hidup dan matinya. Sementara buku-buku sejarah yang pernah ada, menempatkan Indonesia sebagai buih dari konflik dekolonisasi. Perubahan ini diharapkan membawa sudut pandang baru dalam memahami sejarah Indonesia.

Buku Verguisd en vergeten yang dalam versi Belanda terdiri dari tiga jilid, untuk versi Indonesia rencananya akan berjumlah enam jilid, yang akan terbit berturut-turut dalam waktu tiga tahun. Judulnya berubah menjadi: Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. Saat ini, kita baru bisa menikmati jilid pertama, periode Agustus 1945- Maret 1946. Setiap jilid akan diberi anak judul yang berupa keterangan kronologis peristiwa. Pembagiannya: Jilid II: Maret 1946-maret 1947; Jilid III: Maret 1947-Agustus 1948; Jilid IV: September 1948-Februari 1949; Jilid V: Maret 1949-2010; Jilid VI: memberikan uraian tentang jalannya pemberontakan Madiun. Karena itu, judul untuk lima jilid pertama tidak berlaku lagi, mengingat di dalam peristiwa Madiun Tan Malaka tidak memiliki peran. Dengan demikian jilid ini akan diterbitkan sendiri dengan judul tersendiri.

Buku ini tidak sekadar biografi Tan Malaka, tetapi juga merupakan sejarah Revolusi Indonesia. Rasa haus terhadap Tan Malaka, membuat Poeze melangkah jauh menyelami palung-palung sejarah Indonesia, hingga tahun 2010. Apa yang akan digambarkan Poeze selanjutnya? Kita tunggu saja lima jilid berikutnya.

Data Buku
Judul  : Tan Malaka, Gerakan Kiri, Dan Revolusi Indonesia. Jidil I: Agustus 1945-Maret 1946
Penulis  : Harry A. Poeze
Penerbit  : Yayasan Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta
Tahun  : I, 2008
Tebal   : xx + 378 hlm.

*)Hendri F. Isnaeni
Peneliti Sejarah Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.
Penulis Buku Penyamaran Terakhir Tan Malaka di Banten (1943-1945) yang akan terbit Agustus 2009 oleh Penerbit Tinta MAS Jakarta.


About this entry