02 April 2013, Anakku yang ketiga bernama Sabiq Ghidafian Hafidz

(Kaludeung, kateuneung jeung jempena hideup dina ngungkulan kahirupan, bari jauh tina sugema, geus mangrupakeun anugrah anu paling bodas. Tapi sanajan kitu……..,da bongan urang hirup di alam anu telenges, moal weleh mihapekeun hidep ka anu bogaNa. Bral jalu pupunden ati………., geura jorang telengesna alam ku ngaderes jeung anu lima waktu. Bral….., do’a ti kajauhan : allahumahdi qolbaka wa tsabit lisanaka)

Sayyid Sabiq adalah seorang ulama ahli fikih, salah satu disiplin ilmu dalam Islam yang membahas tentang peribadatan dan social-kemanusi­an. Salah satu buah karyanya, Fiqh As-Sunnah yang terdiri dari empat jilid, merupakan sebuah buku fikih yang fenomenal di seluruh negara, terutama negara Muslim yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Sayyid Sabiq dilahirkan di Mesir pada tahun 1915 dan wafat pada 28 Februari 2000. Selain dikenal sebagai ulama fikih yang tidak fanatik kepada satu madzhab, beliau sebenarnya termasuk tokoh utama dala gerakan Islam terbesar di dunia, yaitu Ikhwanul Muslimin. Awal perkenalannya dengan Ikhwanul Muslimin terjadi ketika ia menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar di fakultas Syariah.
Karena keaktifannya dalam berdakwah, beliau menjadi salah satu orang kepercayaan pemimpin Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna. Kemudian, pada tahun 1948, Sayyid Sabiq beserta anggota Ikhwanul Muslimin yang lainnya ikut serta dalam perang Palestina melawan Israel. Akibatnya, beliau dipenjara di bawah tanah pada tahun 1949-1950. Selama masa tahanan, beliau tidak pernah berhenti untuk berdakwah. Dengan lantang dan bersemangat, Sayyid Sabiq menerangkan hukum fikih san agama kepada para tahanan yang lain. Tidak ketinggalan, para petugas penjaga yang mengawal mereka turut mengikuti kuliyah tidak resmi sang ulama dari balik jeruji besi.Sestelah bebas, Sayyid Sabiq kembali ke Al-Azhar dan mendalami bidang dakwah.
Pada tahun 1951, Sayyid Sabiq memutuskan untuk bekerja di Kementrian Wakaf Mesir. Di kementrian tersebut, beliau menempati puncak jabatan sebagai Wakil Kementrian Wakaf. Kemudian, beliau hijrah ke Yaman pada tahun 1964 dan selanjutnya menetap di Arab Saudi. Selama di sana, beliau mengajar mata kuliyah Dakwah dan Ushuluddin di Universitas Umul Qura selama lebih dari 20 tahun.
Dalam setiap dakwahnya, Sayyid Sabiq selalu menyerukan agar umat Islam bersatu, merapatkan barisan, dan tidak berpecah belah yang dapat menyebabkan umat Islam lemah. Ia juga mengajak agar membentengi para pemuda dan pemudi Islam dari upaya musuh-musuh Allah dengan membiasakan mereka beramal Islami, memiliki kepekaan, memahami segala permasalahan kehidupan, serta memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Sayid Sabiq juga pernah mengingatkan bahwa Israel adalah pihak yang selalu memusuhi umat Islam. Beliau pernah bertemu dengan salah seorang pengajar asal Palestina yang bercerita kepadanya, “Suatu kali saya pernah bertemu dengan seorang Yahudi sangat serius duduk menghafal Kitabullah dan hadits-hadits Rasulullah. Lalu saya tanyakan kepadanya, ‘Kenapa kamu melakukan ini?’ Ia menjawab, ‘Agar kami bias membantah kalian dengan argumentasi. Kalian adalah orang-orang yang reaktif dan sangat sensitive. Karena itu, kami ingin mengendalikan lewat sensivitas kalian itu. Jika kami berdebat dengan kalian, kami akan menggunakan ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi kalian. Kami juga akan menyebutkan sebagian permisalan dalam bahasa Arab yang mendukung argumentasi kami. Sehingga, kalian bertekuk lutut terhadap seruan kami dan mempercayai kebenarannya.Diterbitkan di: 07 Juni, 2011Sumber: http://­id.shvoong.com/­humanities/­religion-studies­/­2170600-sayyid-s­abiq-ulama-fiki­h-yang/­#ixzz2PHHUTfci

Sayyid Sabiq, Ulama Fikih yang Tidak Mau Dikekang

id.shvoong.com

About this entry