AKSARA DIANTARA SENJA (Deli Luthfi Rahman)

Teks masa silam terpendam diantara siang dan malam. Memutar sejenak ingatan akan sebuah kisah yang teruntai. Huruf itu dengan setia masih berada pada tempatnya diantara barisan huruf lainnya. Berjejer dalam barisan kalimat, berkumpul dalam paragraph yang sudah dilupakan. Sebuah huruf imaginer memeluk huruf lainnya membuat ribuan alur, intrik, cinta, benci, konflik dan yang lainnya. Manifestasi dari ide yang ditulis dalam sebuah fenomena. Sang fenomena merayap liar diantara alur yang memutar dan berjalan lurus sehingga terlahirlah nomena. Oh! Aku berada diantara barisan Fenomena dan nomena itu, berdiri tegap memandanginya yang mungkin telah dilupakan.

Diluar sana, kemuning senja hilang tertutup awan. Didalam sini, bingkai rusak menghiasi lukisan makna paradigma aksara. Aku terdiam, mendengarkan musisi memainkan karya yang sudah banyak diadopsi. Baru saja aku berjumpa nada, irama sudah memaki. Inilah lantunan cinta yang terbata-bata karna miskin akan kata. Ini aku, bukan mereka. ini aku, aksara diantara senja.

Ku cipta karya demi sebuah cita-cita. Ku pangku asa demi sebuah makna. Ku angkat lara demi sebuah nama. Semuanya aku jalani dengan nurani. Diantara tiga kerumunan aku berdiri, melihat, berpikir, mendengar dan berjanji. Diantara tiga paradigma ku berimajinasi, bermimpi dan bernyanyi. Diantara tiga dimensi ku berlari menata air mata, canda-tawa dan cinta. Tetapi aku masih tetap saja aksara diantara senja.

Dilangit kulihat kemuning surya menyelimuti alam raya. Dibumi ku berjanji untuk selalu setia. Sejenak renungan menari mengelilingi hati yang sunyi, memikirikan peritiwa yang tertata rapih dalam kotak abracadabra. Disana pandawa naik tahta, pada kasta diantara kata. Menjawab semua janji diri yang pernah terucap, kini itu terbukti. Selamat saudaraku, bersiaplah untuk berjibaku, aku mendukungmu diantara barisan nada. Disini sekoloni berkumpul membuat simpul yang tak pernah dimengerti. Menorehkan tinta dalam manuskrip yang pernah ku simpan dalam dunia imajinasiku. Mari saudaraku, renungkan kemungkinan terbesar kita adalah untuk memperbesar kemungkinan. Diantara keduanya aku berdiri memaku hati bersama kafilah pemegang janji suci. Sebutlah aku aksara diantara senja, sebagai pertanda bahwa aku ada.


About this entry