Dhamma : Harik Ghiyarian

Dalam hidup ini kita memiliki sebuah impian atau cita-cita yang hendak kita capai. Pada umumnya hampir setiap orang memiliki sebuah impian atau cita-cita. Seperti impian untuk menjadi orang kaya, impian menjadi orang yang berkedudukan, dan lain-lain. Impian atau cita-cita adalah hal penting yang harus dimiliki setiap orang, karena impian atau cita-cita merupakan arah yang hendak dicapai seseorang dalam kehidupan ini. Pada dasarnya, setiap impian atau cita-cita itu bersifat bisa membawa pada kebahagiaan, karena kebahagiaan adalah impian bagi semua orang tanpa melihat status dan profesi.

Setiap cita-cita atau impian yang seseorang pilih pada dasarnya karena merasa cocok atau senang dengan hal tersebut. Karena adanya rasa senang atau kesukaan, akan mendorong adanya minat dan semangat. Semangat inilah yang akan mampu mendorong untuk merealisasikan apa yang dicita-citakan. Tetapi banyak yang kurang memahami tentang seberapa besar semangat juang harus dimiliki atau yang diperlukan, sehingga tak jarang ketika seseorang berusaha untuk memperoleh cita-cita atau impiannya justru mengalami kekecewaan dan keputusasaan.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena semangat juang yang berkobar terlalu tinggi (ambisius) dan hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan apa yang diharapkan. Dengan adanya semangat juang yang terlalu besar, maka semangat itu berubah menjadi nafsu keinginan, sehingga ketika sudah berusaha dengan luar biasa tetapi hasilnya kurang sesuai maka akan menimbulkan kekhawatiran, kecemasan, putus semangat, depresi bahkan hingga mengalami gangguan jiwa.

Agar tidak mengalami hal semacam itu, maka kita semestinya berusaha memahami diri sendiri tentang seberapa besar kemampuan kita. Tanpa memahami hal ini, kita tidak mungkin mencapai cita-cita yang hendak kita capai. Ibarat pepatah kuno ”cebol nggayuh lintang”. Yang memiliki makna bahwa sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi (mustahil).

Sona dan tali kecapi

Di jaman Sang Buddha, ada seorang bhikkhu yang bernama Sona. Sona ini dulunya adalah seorang pemain kecapi. Setelah ia mendengar Dhamma dari Sang Buddha, ia memiliki keyakinan yang besar terhadap Dhamma, dan ia menyatakan diri untuk menjadi bhikkhu. Setelah menjadi bhikkhu, ia berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kebebasan, maka siang malam ia meditasi terus-menerus dengan bersemangat. Tetapi ia tidak pernah melihat seberapa besar kemampuan yang dimiliki. Karena semangat yang begitu keras tetapi kebebasan belum ia raih, maka ia mulai putus asa, sehingga muncul niat untuk meninggalkan latihannya itu.

Sang Buddha yang mengetahui hal ini kemudian mendatangi Bhikkhu Sona, dan Bhikkhu Sona bercerita tentang usaha yang pernah ia lakukan dengan begitu bersemangat, melebihi kemampuannya tetapi kebebasan belum ia peroleh, sehingga membuat ia menjadi putus asa.

Setelah mengetahui hal ini, Sang Buddha memberikan motivasi terhadap Bhikkhu Sona. Karena ia dulunya seorang pemain kecapi, maka Sang Buddha memberi perumpamaan tentang kecapi, agar mudah ia pahami. Lalu Sang Buddha bertanya kepada Bhikkhu Sona: ’Bagaimana cara memainkan kecapi?’. Sang Buddha bertanya: ’Bagaimana kalau senar kecapi itu jika dimainkan terlalu kencang?’ Bhikkhu Sona menjawab: ’Suara yang dihasilkan akan tidak enak didengarkan, bahkan bisa membuat senar kecapi menjadi putus.’ ’Lalu bagaimana kalau senar kecapi terlalu kendor?’ Bhikkhu Sona menjawab: ’Suara yang dihasilkan menjadi tumbang’. ’Lalu bagaimana agar suara yang dihasilkan itu menjadi benar-benar indah dan menarik untuk didengarkan?’ Bhikkhu sona menjawab: ’Agar suara kecapi itu indah, maka senar kecapi meski sesuai, tidak terlalu kencang, juga tidak terlalu kendor’. ’Seperti itulah latihan yang perlu kau jalankan.’ Setelah memahami hal ini, Bhikkhu Sona kembali berlatih dengan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuannya, sehingga ia mencapai kebebasan.

Kisah di atas ini juga sebagai renungan bagi kita, agar ketika kita berusaha untuk menggapai cita-cita yang kita impikan, kita tidak terlalu bernafsu dan juga tidak terlalu malas. Tetapi kita perlu keseimbangan dan tahu seberapa besar kemampuan yang kita miliki. Tanpa melihat kemampuan yang kita miliki, kita bisa putus di tengah jalan.

Kesimpulan

Dengan memahami hal ini semoga kita sewaktu sedang berusaha untuk mencapai impian atau cita-cita, kita bisa tahu seberapa besar kemampuan yang kita miliki, sehingga kita tidak menjadi tegang atau tertekan tetapi bisa menjadi nyaman dan tenang. Ingatlah tentang seberapa besar kemampuan yang kita miliki dan mainkanlah secara seimbang seperti perumpamaan kecapi tidak terlalu kencang, juga tidak terlalu kendor.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

YO DHAMMAM DESESI ADIKALYANAM MAJJHEKALYANAM PARIYOSANAKALYANAM TI

Dhamma itu indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya

__________________

YO DHAMMAM DESESI ADIKALYANAM MAJJHEKALYANAM PARIYOSANAKALYANAM TI

Dhamma itu indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya


About this entry