Salman Guruku

Deli Luthfi Rahman

Entah apa yang harus ku tulis untuk menggambarkan tentangnya. Hanya piringan kenangan yang selalu kuputar dalam layar putih kehidupan. Engkau berjuang tanpa lelah, tenpa keluh kesah, tanapa sebuah keputusasaan. Ku tak kuat untuk melukis kisahmu dalam perihnya kata-kata, karena ku harus berenang dalam air mata ku sendiri.

Kau adalah guru bagiku. Kau ajarkan aku tentang kehidupan, tentang kesedihan, tentang perjuangan, tentang keindahan, tentang sesuatu yang seharusnya kusyukuri. Tanpa keluh kesah kau jalani kehidupan dengan penuh pengobatan dan sebuah aturan. Tanpa tetes air mata kau habiskan waktumu untuk ujian-ujian yang memilukan. Tanpa rasa menyesal kau jalani masa mudamu untuk menahan berbagi cobaan.

Saat orang merasa riang, kau habiskan waktumu dipembaringan. Saat orang merasakan indahnya masa muda, kau hanya melihat dan memendam sebuah rasa. Rasa yang seharusnya kau katakan dan kau ekspresikan.

Sahabatmu adalah do’a, yang kau simpan harap dan keinginan didalamnya. Kau rajut impian dalam syahdunya kehidupan. kau adalah seorang manusia sejati, manusia yang hidup diantara keimanan dan kesabaran. Badai yang datang menerpa tak pernah sekalipun membuatmu goyah. Keyakinan tertancap kuat dalam sanubarimu, sanubari seorang manusia sejati.

Kau adalah penawar disaat aku terluka. Kau adalah pelita pelipur lara. Kau adalah sebuah miniatur manusia surgawi. Kau adalah cambuk dalam keterpurukan. Kau adalah imajinasi dalam dunia pengistirahatan. Kau adalah adikku dan kau adalah guruku.

Salman bukan hanya seorang adik, tetapi ia merupakan guru bagiku. Ia selalu mengajarkan kepadaku tentang kehidupan yang sering aku sia-siakan. Kehidupan yang harus diisi dengan sebuah perjuangan dalam mencapai puncak keabadian. Puncak tersebut hanya bisa didaki oleh seorang yang mempunyai kesabaran dan ketakwaan dalam menjalaninya.

Salman, bila orang melihatnya hanya dari bagian luar saja, mungkin orang-orang akan mengatakan kalau ia adalah manusia yang lemah dan menyedihkan. Tubuhnya kecil dan kurus. Seperti tidak ada daging yang membungkus tulangnya. Yang ada hanyalah selembar kulit tipis. Orang akan mengatakan bahwa ia anak yang lemah. Orang yang akan gampang terserang wabah penyakit. Orang akan mengatakan bahwa ia anak yang tidak mempunyai masa depan yang cerah. Orang akan mengira bahwa ia tidak akan sanggup menjalani kehidupan.

Namun cobalah kita melihat bagian dalam dari seorang salman. Aku akan berkata bahwa ia adalah seorang manusia yang kuat bukan manusia yang lemah. bagiku lemah dan kuatnya seseorang bukan dilihat dari fisiknya. Justru lemah dan kuatnya seseorang dilihat dari jiwannya. Ada orang yang fisiknya gagah, mempunyai tubuh besar, otot disekujur tubuhnya nampak, dadanya bidang dan ia sanggup memikul beban yang beratnya ber-ton-ton. Apalah artinya bila tubuhnya kuat tapi jiwanya rapuh.

Tubuh tak lebih hanya sebagai hiasan atau topeng untuk menutupi kelemahan jiwa.

Memang benar, Salaman sering sakit-sakitan. Tetapi ia tidak memusuhi penyakitnya, bahkan ia bersahabat dengan penyakit yang dideritanya. Kuat dan lemahnya seseorang bukan hanya dilihat dari gampang atau tidaknya ia terserang penyakit, tetapi lemah dan kuatnya seseorang dilihat dari ia menerima dan memperlakukan penyakit yang menyerangnya. Salman tetap sabar dengan cara berikhtiar untuk sembuh. Impian terbesar dalam hidupnya adalah untuk sembuh. Ia terus berjuang tanpa rasa lelah.

Salah besar, jika orang mengatakan bahwa Salman tidak mempunyai masa depan yang cerah. Hari ini adalah gambaran dari hari yang akan datang. Masa depan Salman, masa depan yang sangat cerah, lebih cerah dari masa depan yang ada di dunia ini. Masa depan yang di impikan oleh seluruh umat manusia. Masa depan yang abadi, masa depan di Taman Firadus. Karena Salaman merajut mimpinya dengan benang kesabaran dan jarum perjuangan.

Sejak kecil Salman sudah menderita penyakit thalassaemia. Thalassaemia adalah suatu kelainan darah, thalassaemia ini terdiri dari berbagai jenis. Ada thalassaemia bawaan/ trait, thalassaemia minor dan thalassaemia mayor. adikku mengidap thalassaemia mayor, artinya tidak dapat membentuk hemoglobin yang cukup dalam darah. Sehingga adikku membutuhkan transfusi darah setiap bulannya.

Salman harus melakukan tranfusi setiap bulan. Sedikitnya, dua labu darah harus dimasukan ke dalam tubuhnya. Betapa mirisnya hati ini ketika harus melihat Salman menerima tusukan demi tusukan jarum suntik. Kulihat tangannya bengkak, akibat seringnya jarum suntik menusuk lengannya. Ia hanya menyucurkan air kesedihan dari kedua matanya. Sambil sesekali ia mengatakan kepada Ibuku, “Ibu sakit, sakit”. Dengan suara tersedu-sedu.

Salman pun menjalaninya dengan penuh kesabaran. Malah secara todak langsung ia mengatakan, “Penyakit ini diberikan oleh Allah, maka Allah akan memberi penawarnya”. Maka yang kita harus lakukan adalah berusaha untuk sembuh. Sabar bukan pasrah menerima keadaan dan tidak berusaha, tetapi sabar adalah menerima dan memperlakukan keadaan sebagaimana mestinya.

Menurut dokter, kemungkinan besar penyakitnya susah untuk disembuhkan. Kemungkinan untuk sembuh seribu banding satu. Bahkan dokter memprediksikan umur Salman tidak akan lama, paling hanya sampai kelas 4 SD. Perkataan dokter itu sempat membuatku merasa khawatir. Namun secara tidak langsung Salman mengajarkan kepadaku, bahwa dokter bukanlah Allah. Kebenarannya tidaklah mutlak. Prediksinya hanayalah berdasarkan kebiasaan dan kebanyakan. Tetapi Allah sudah menetapkan sesuatu, siapa pun tidak akan ada yang mengetahui, termasuk kapan dan dimana kita akan mati.

Sebuah nilai ketauhidan yang sering manusia abaikan. Perkataan dokter pun tidak terbukti kebenarannya. Salman masih bisa menghirup udara di dunia ini. Keimananku hampir goyah.

Meskipun penyakitnya tidak kunjung sembuh, Salaman tidak pernah berputus asa dalam meraih mimpi-mimpinya. Semangatnya untuk mencari ilmu mengalahkan semangatku. Biasanya orang yang menderita thalasemia tidak boleh pikirannya terlalu diporsir. Karena itu bisa mengganggu terhap daya tahan tubuhnya. Tetapi Salman bersikeras untuk tetap pergi mencari ilmu. Ia tidak mau keadaan fisiknya menghalangi ia dalam menggampai setiap impiannya. Pernah suatu saat aku melihatnya sedang menangis di dalam masjid pesantren. Ia hanya memegang kakinya sambil mengurutnya. Saat sedang jajan saudaraku memberitahukan keadaan salman kepadaku. Aku pun segera menghampiri Masjid, dan benar saja aku melihat Salaman sedang menangis seorang diri di rumah Allah itu. Kemudian aku membantunya, aku urut-urut kakinya sambil bertanya kepadanya, “ Man, kenapa?”. Dia tidak menjawab. Ia hanya menangis sambil tangannya menutup kedua matanya. Aku hanya berharap Allah mengangkat penyakitnya tersebut. Aku tidak kuasa melihatnya menahan sakit. Ya Allah, hanya Engkau yang bisa menyembuhkan segala penyakit, hanya engkau yang bisa memberikan penawarnya. Mengapa kesembuhan tak kunjung Engkau berikan kepada Salman. Jikalau penyakit yang Kau berikan ini adalah suatu bentuk kasih sayang-Mu padanya, maka kuatkanlah Salman.

Ada bebrapa peristiwa yang membuatku menangis dan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Pernah suatu saat, keadaan fisik Salman mulai menjadi lemah. Salaman datang padaku dengan maksud mengajakku untuk pulang sekolah bersamanya. Aku sempat malas juga, masalahnya aku ingin bermain dudlu bersama taman-temanku. Namun aku mempunyai tanggung jawab terhadap adikku. Akupun pulang bersamanya. Kami berdua naik angkutan umum. Pada saat kami mau turun, aku menyuruh Salman untuk turun duluan. Tetapi, ia tidak mau dan mengatakan padaku;

”Luthfi saja yang turun duluan, kalau Salman yang duluan turun bakalan lama”.

Akupun segera turun dari angkutan tersebut, dan yang membuatku sedih ketika melihat Salman turun. Ia merangkak untuk turun. Ia duduk di tangga pintu angkutan umum teresbut, hanya berusaha untuk turun. Aku melihat badannnya mulai semakin lemah. kemudian aku segera membantunya. Tiba-tiba aku mendengar suara di belakangku. “Braak!”. Setelah kulihat, ternyata tukang es terjatuh dari sepedanya. Aku kembalikan perhatianku untuk membantu Salman.

“Pi bantu si emangnya, biar Salaman mah bisa turun sendiri”. Kata Salaman, yang membuatku terheran-

heran, kagum, sedih dan bangga. Meskipun keadaannya susah ia tidak mau menyusahkan orang lain, malah ia ingin membantu orang lain.

Kemudian Salman pernah bercerita padakku.

“Pi, Salman waktu itu pernah dimarahin oleh supir angkot. Gara-gara waktu itu saking susahnya Salman untuk turun dan harus duduk dulu di tangga pintu angkot.”

Pikirku, mungkin persis seperti kejadian waktu itu turun dari angkot. Salman memerlukan usaha yang keras hanya sekedar untuk turun.

“Memangnya di marahin gimana Man?”. Tanyaku padanya.

“Eeeuuh!! Budak teh meni hararese turun teh!.” Jawab Salman dengan raut muka yang menunjukan sakit hati.

Mendengar cerita tersebut membuatku merasa geram. Marah kepada supir angkot tersebut. Kalaulah aku ada disana akan aku pukul supir angkot itu. Kalau boleh berkata kasar akan aku katakan pada sopir itu, ”Pika Anjingeun pisan”.

Bagaimana kalau posisinya adik atau saudara kita yang diperlakukan seperti itu. Kira-kira apa yang akan kita lakukan?

Menginjak kelas 3 Mu’allimien, penyakit Salman bertambah parah. Tulangnya kropos, paru-parunya semakin parah. Salman terserang osteoporosis. Allah mengujinya kembali untuk menaikan derajatnya sebagai seorang hamba Allah. Tulang paha kanan dan kirinya patah. Sehingga menyebabkan Salman tidak bisa berjalan. Ia hanya terbaring tidak berdaya. Kedua kakinya dibalut perban, dan diberi beban pada kakinya. Selama setahu Salaman harus berbaring. Bayangkan bila kita berbaring setahun, kira-kira apa yang kita rasakan?. Kulit kakinya mengelupas akibat lembab yang diakibatkan perban yang menutupi kakinya. Punggungnya lecet-lecet, karena harus terus berbaring. Hatiku semakin menangis melihat keadaannya.

Kakinya gatal-gatal akibat kulitnya mengelupas. Untuk menggaruknya saja ia tidak bisa. Ia hanya meringis menahan gatal. Kadang ia meinta bantuanku hanya sekedar untuk menggaruknya. Ya Allah, begitu kuatnya adikku ini dalam menghadapi ujianmu. Untuk buang air besarpun baginya terasa susah. Buang air pun ia lakukan di atas pembaringan. Persis seperti seorang bayi. . Walaupun keadaanya begitu, dia tidak pernah memperlihatkan rasa sedih di depan kami, malah dia selalu menghibur kami. Pernah suatu saat dia menangis ketika melihat kami membantunya buang air besar. Ayahku bertanya padanya, “Man, kenapa nangis?”.

“Salaman malu sama semuanya karena dari kecil sampai sekarang, Salman selalu menyusahkan semua”. Jawabnya dengan tersedu-sedu.

Jawaban tersebut membuat hatiku semakin menangis, “bagaiamana jawaban tersebut bisa diucapakan oleh adikku yang justru keadaannya sedang sakit”. Sangatlah wajar jika dia menyusahkan kami karena itu kewajiban kami.

Rumah sakit ibarat rumah baginya. Seminggu Salman pulang, seminggu yang akan dating ia harus masuk kembali ke Rumah Sakit. Saking seringnya keluar masuk rumah sakit, para perawatpun mengenal keluarga kami. Ketika Salman sedang melamun, menerawang menuju jendela, Salman bertanya pada Abah.

“Bah! Kalau itu ruangan VIP?, sama tidak rasanya denga di ruangan kelas dua ini?”.

“Iya Man itu ruangan VIP”. Jawab Abah.

Terlintas dalam pikiran Abah untuk memaksakan diri menyewa ruangan VIP selama satu hari. Hanya untuk membahagiakan Salman.

Suatu hari Abah mengajak Salman.

“Man ayo kita pindah ruangan ke VIP”

“Ah! Bah, lebih baik uangnya dipakai buat bayaran sekolah Silmi, Nazmi dan bekal Luthfi di Asrama Pesantren”. Jawab Salman.

Begitu bijak sekali jawaban yang terlontar dari remaja yang berumur 17 tahun ini. Dia tidak memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri. Dia memikirkan kami bertiga yang keadaannya jauh lebih baik dari dirinya.

Minggu pagi, membuatku sangat sedih dan takut. Aku menerima telephon dari Abah untuk segera datang ke Rumah Sakit. Akupun bergegas menuju Rumah Sakit Al-Islam yang berada di Jl. Soekarno-Hatta. Sesampainya disana aku bertanya pada Ibuku.

“Bu, ada apa?”

“Salman masuk ICU, setelah tadi mengalami anfall”. Jawab ibu.

Aku bertanya-tanya, Allah akan memberikan ujian apalagi pada Salman dan kami?. Kemudian ibu menceritakan kejadian tadi pagi kepadaku. Ketika dalam anfal tersebut Salaman menanyakanku dan kemudian ia hanya mengucapkan, “A B C D” seperti anak yang baru belajar membaca. Namun ayahku menegurnya, “Man, jangan sebut A B C D, tapi Laa illaha illallahu”. Kemudian adikku tersenyum sambil membaca kalimat tauhid laa illaha illallahu. Seolah-olah Salaman sedang menguji ayahku tentang ke-imanan-nya. Akhirnya dokter membawa adikku ke ICU karena keadaannya yang drop. Pada saat perjalanan menuju ICU, tepatnya di dalam lift, salaman berkata pada Ibu ku, “Bu, Buka dong krudungnya”. Mungkin saja pertanyaan tersebut lahir karena adikku sudah sangat lama berada di rumah sakit. Sedangkan ibu ku ketika menunggunya terus menggunakan penutup kepala. Sehingga sudah lama adikku tidak melihat ibu ku tanpa penutup kepala. Secara sepintas pertanyaan tersebut sangat wajar terlontar. Ibuku juga merasa heran, kenapa adikku yang tahu hukum bisa berkata seperti itu.

Menanggapi pertanyaan adikku tersebut ibu hanya mengatakan, “Jangan shaleh, ini kan di lift banyak orang. Ini kan aurat”. Salman kemudian mengangguk dan tersenyum. Seolah-olah sama yang dilakukannya kepada ayahku, mengujinya. Biasanya permintaan terakhir orang yang akan meninggal selalu dipenuhi. Tapi tidak dengan ibu ku, ibuku tidak akan mengorbankan aqidahnya. Adikku menguji ayah dan ibu ku sebelum meninggalkan dunia ini dengan sebuah ungkapan dan permintaan. Jawaban ayah dan ibuku tersebut mungkin saja membuatnya tenang ketika akan meninggalkan kami. Karena ayah dan ibu ku masih memegang aqidahnya sebagaimana yang telah di ajarkan kepada adikku.

Ada satu lagi pertanyaan adikku yang dilontarkan kepada ayahku, sehingga membuatku semakin berpikir. “Abah, kenapa harus Salman yang mengalami ini?”. Pertanyaan yang sulit. Mungkin jika aku yang ditanya hanya bisa terdiam karena kebodohanku. Tapi tidak dengan ayahku, ia menjawab “Salman tuh pilihan Allah dan Allah sayang sama salman”. Jawaban yang hanya bisa dijawab dengan keimanan.

Dokter berkata pada Abah dan Ibuku, kalau paru-paru Salman banjir, sehingga membuatnya susah untuk bernafas. Maka dokter menanyakan kepada Abah dan Ibu apakah Salman mau di operasi atau tidak?, karena resiko yang akan ditimbulkannyapun besar.

“Hidup dan Mati itu urusan Allah, dokter tahu mana yang terbaik untuk dilakukan secara medic”. Jawab Abah dengan agak sedikit marah.

Akhirnya kami putuskan Salman untuk segera di operasi. Paru-parunya akan dilobangi dan dimasukan selang untuk membantu nafasnya agar tidak sesak.

Namun sebelum operasi dilakukan Salman sudah tidak sadarkan diri. Perawat sibuk membantunya dengan alat pernapasan. Denyut jantungnyapun melemah. Ibu membisikan pada telinga Salman.

“Man, Abah dan Ibu Ridho. Salman harus tenang. Nanti Salman jemput Abah dan Ibu di Surga”.

Kemudian keluarlah air mata dari kedua mata Salman, seolah-olah Salman mendengar dan mengerti apa yang Abah dan Ibu ucapkan. Kemudian Abah dan Ibu membisikan di telinga Salman Laa Ilaaha Illallahu, dan di ikutinya perkataan tersebut oleh Salman.

Pamanku memanggil aku dan Nazmi. Pada waktu itu aku dan Nzmi sedang berada di luar. Kemudian aku masuk ke ruangan ICU.

“Pi, Talkinan”. Suruh Abah padaku.

Aku pun membisikan kalimat Laa ilaaha illallhu sebanyak tiga kali. Kemudian Nazmi pun sama membisikan kalimat tersebut. Akhirnya Salman menghembuskan nafasnya yang terakhir. “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rooji’uun” Ya Allah, janji Mu telah datang, janji bagi setiap yang bernyawa. Engkau memang telah mengakhiri penderitaannya dengan mengambilnya kembali.

Inilah sebuah perjuangan yang akan di tebus oleh indahnya surga. Tempat bagi para orang yang beriman. Salman aku akan merindukanmu, jemput kami di taman Firdaus. Aku ingin kita berkumpul bersama kembali dalam keabadian. Salman, engkau adalah guru yang mengajarkan padaku indahnya, sakitnya, lelahnya sebuah perjuangan.


About this entry