Alasan (anak bangsa) Sekolah

Pengantar

Bahwa pendidikan adalah tugas bangsa (pemerintah dan masyarakat) adalah final. Pembukaan UUD 45 telah memayungi keniscayaan tersebut, nilai-nilai yang berkembang di masyarakat pun juga telah dengan jelas bergerak ke arah itu, namun kenyataan di lapangan memerlukan keridloan dan keikhlasan kita (anak bangsa) untuk tidak bisa menerima begitu saja mengenai dinamika pendidikan yang belakangan ini begitu banyak disorot berbagai pihak.

Selayang pandang

Ada banyak alasan manusia indonesia menyelenggarakan pendidikan (sakola), seiring waktu, kita dipaksa menerima alasan mengapa manusia indonesia sekolah :

1. Masa Kerajaan, sangat jelas nampak terbaca, yang bisa bersekolah hanyalah para putra “terah” (darah biru) dengan alasan yang cukup jelas untuk melanggengkan kekuasaannya, dan ini bisa mudah teraih karena memang hanya merekalah yang memahami berbagai hal perikehidupan ( masyarakat banyak bergerak sebagai pelengkap, karena memang tidak memiliki kompetensi/teu nyakola). Sementara pendidikan yang muncul dari nilai-nilai islampun (pasantren) terjebak dalam suasana kerajaan ini, seorang santri “terah” dengan seorang santri kebanyakan memiliki pelayanan yang berbeda dari kiainya, lantaran alasan ki santri  “terah”  masantren agar memilki kematangan beragama (islam) untuk melanaggengkan kekuasaanya, sementara ki santri kebanyakan bersabar diri dalam posisi pelengkap.  Bukankah kita mengenal hirarki Ajengan, Mu’alim, Muroqi, Mu’adzin dan Murobat (merebot) dalam suatu lingkungan lembaga pendidikan islam ? Bukankah kita pun penasaran dengan cerita Syeh Siti Jenar (ulama terah kah ?, ulama kebanyakan kah, atau mungkin peristiwa pengadilan atas syeh Siti Jenar bermotif perebutan kekuasaan?)

2. Masa pergerakan, bisa jadi politik etika belanda yang diwujudkan dengan membolehkannya anak-anak pamong praja/pegawai pemerintahan belanda yang pribumi masuk sekolah adalah perubahan alasan sekolah, dari untuk melanggengkan kekuasaan ke arah kesadaran berbangsa, berbahasa dan bertanah air satu INDONESIA, meskipun pada saat itu rakyat jelata belum bisa sekolah. Jelas perubahan motivasi sekolah dari anak-anak “terah” dan anak-anak pegawai pemerintahan hindia belanda mendorong untuk mewujudkan pendidikan yang merata bagi seluruh anak negri, dan ini terbukti banyaknya sekolah yang didirikan oleh mereka (baca : Ki Hajar dan Nyi Hajar). Dan dalam atmosfir pendidikan agama (pasantren) suasana ini termomentumkan oleh  KHA. Dahlan dengan mendirikan pesantren ala sekolah Belanda

3. Masa Revolusi fisik, Tentara Pelajar adalah cerita yang begitu kuat untuk melukiskan alasan mengapa anak bangsa sekolah (guru dan murid angkat senjata), bahkan di kalangan santri telah lebih dulu muncul lasykar-lasykar kemerdekaan (ruh agama : islam – jihad , begitu kuat untuk perkara ini) seperti Jundullah, Fisabilillah dan Hizbullah (kiai dan santri angkat senjata), alasan mereka cuma satu : Merdeka atau mati.

4. Masa kemerdekaan, kita bisa melihat geliat anak negri untuk berpemdidikan (sekolah), struktur pemerintahan baru Negara Kesatuan Republik Indonesia alasan utama mereka sekolah, ilustrasi ini begitu terlihat dari nyanyian para ibu, ketika menina bobokan anak-anaknya : “Nelengnengkung nelengnengkung, geura gede geura jangkung, geura sakola ka bandung, geura makayakeun indung…..” . Bandung dan Jogja berubah menjadi kota pelajar.

5. Masa Pembangunan awal, maka akan segera terbaca kegembiraan, kesukacitaan, dan bahkan kebanggaan sebuah keluarga di kampung jika anak-anaknya telah lulus sekolah dan bahkan bekerja menjadi pegawai instansi pemerintahan. Besluit (SK) menjadi begitu murni dan berharga,  sebab siapapun ia, ditempatkan dimanapun ia, tujuannya cuma satu membangun negeri ini.

6. Masa Sekarang, seiring dinamika perkembangan zaman (revolusi industri – revolusi teknologi) telah dengan sendirinya mempengaruhi peradaban anak negri, kita bisa melihat ada sesuatu yang hilang dari alasan mengapa harus sekolah. Untuk setingkat satuan pendidikan dasar dan  menengah  (bunga bangsa) hampir banyak ditemukan kenyataan seperti berikut :

a. rentan emosi, tawuran adalah solusi bahkan mungkin hiburan.

b. rentan cita-cita, pengangguran adalah solusi atau paling tidak merasa terhibur dengan expresi jalanan : premanisme, ngamen, dan pelayanan konflik.

c. rentan nilai, keterasingan di wilayah budaya sendiri, ada banyak anak negeri yang berkompetensi diatas rata-rata lebih memilih tinggal di luarnegeri, bahkan  memilih menyelenggarakan pemerintahan sendiri.

Penutup

Adaa baiknya keadaan ini, disegarkan kembali dengan mencoba menjawab pertanyaan sebagai berikut :

1. Benarkah Dinas-dinas pendidikan lebih memerankan diri sebagai birokrat penguasa atau pelayanan, mediator jasa pendidikan ?

2. Benarkah sekolah-sekolah hanya menginginkan status akreditasi A dengan sebab dan akibat kompetitip yang tidak sehat ?

3. Benarkah guru-guru hanya membutuhkan status tersertifikasi dengan sebab dan akibat prosedur yang kurang sehat ?

4. Benarkah para orang tua hanya ingin anaknya memiliki ijazah dengan sebab dan akibat yang tidak pada prosedurnya ?

5. Benarkah anak-anak negri ingin sekolah dalam sistem pendidikan dengan sebab dan akibat yang ada sekarang ini ?

Juga kita perlu menganalisa sisi lain atmosafir pendidikan nasional ini dengan memunculkan bantahan terhadap kenyataan sebagai berikut :

1. Pesimisme dan prilaku destruktif peserta didik

2. Mahalnya  biaya pendidikan

3. Arogansi penyelenggara pendidikan, sombongnya penyandang dana pendidikan, dan atau keblingernya orang-orang pintar (pakar pendidikan).

Maka, alangkah bijaknya alasan anak bangsa sekolah dijadikan titik awal penelusuran kembali untuk menemukan sistem pendidikan negri ini, sehingga kita tidak meninggalkan generasi yang lemah yang bisa jadi menjadi penyebab hilangnya negri ini (na’udzu billahi min dzalika).

Kepribadian bangsa dalam zaman kosmopolit ini sangat diandalkan bisa diwujudkan dari sistem dan program pendidikan bangsa ini, kita selalu berharap tantangan zaman terjawab oleh bangsa ini, dan kita termasuk bangsa yang diperhitungkan keberadaannya. Semoga.


About this entry