Revolusi kemanusiaan 2

( Lawwamah )

Pengantar

Ketika kesepakatan-kesepakatan, ketertundukan pada hukum alam, dan terpuasinya segala keingintahuan Manusia ( keterbatasan ) menjadi media dari kualitas kemanusian, maka begitu jelas perjalanan manusia menuju keunggulannya dalah kesadaran manusia itu sendiri. Bahwa kesepakatan-kesepakatan, ketertundukan pada hokum alam dan terpuasinya segala keingin tahuan manusia adalah pembodoahna masal, jika media-media itu tidak memberi pintu untuk ( manusia ) melepaskan dirinya. Ia ( manusia ) terjebak dalam kesadaran statis, kemudian melajimkan kekeliruan-kekeliruan yang disadarinya se bagai keterbatasan belaka, selanjutnya tenggelam dalam media kehidupan tersebut.

Adakah ciri keunggulan ( manusia ) pada kondisi seperti itu ?

Kesadaran primitif

Kesadaran muncul karena adanya pengetahuan ( teoritis maupun empiris ) tentang potensi yang dimiliki, baik yang menunjukan kekuatan maupun kelemahan. Kesadaran juga muncul akibat perjalanan panjang dengan beberapa peluang dan kendala yang ditemuinya, kesadaran awalnya berwujud penyesalan, kalaulah kebaikan (amal sholeh) yang sedang dikerjakan, penyesalan akan mengatakan, mengapa tidak sebanyak-banyaknya kebaikan dikerjakan , sebaliknya kalaulah keburukan (pasadat) yang sedang dikerjakan, penyesalan akan mengatakan, menyesal telah melakukan pekerjaan-pekerjaan buruk itu. Kesadaran primitive itu begitu menakjubkan, dari koordinat ini bisa terlihat perjalanan panjang manusia, dari awal kesejarahannya sampai sekarang begitu mengagumkan.

Sering muncul tokoh-tokoh kesadaran primitif menjelma menjadi tokoh kemanusiaan, manakala manusia lainnya sedang asik merusak nilai-nilai kemanusian itu sendiri, bahkan kesadaran primitif itu mampu menyentuh kekuatan-kekuatan diluar kebutuhan akan kesepakatan-kesepakatan, hukum alam dan hukum akal. Ada tokoh primitif yang akibat kesadaran primitifnya, dari manusia biasa dinobatkan menjadi manusia kedewaan, ada dewa yang terpaksa turun ( dewa kemanusiaan ), ada yang anak dewa, dan uniknya pengakuan itu merata dibelahan dunia ini.

Sejatinyalah, bahwa Atheisme, Animisme, Paganisme, Komunisme, Liberalisme adalah kesadaran primitive yang mencoba keluar dari keterjebakan kesepakatan-kesepakatan, hukum alam dan hukum akal.

Adakah keunggulan manusia pada kondisi seperti itu?

Dari mana asal kesadaran primitif ?
Penomena alam sungguh menakjubkan, ada banyak pola pemetaan disana, pola-pola pemetaan dimulai dari identias materi, pengembangannya ( acak berpola, pola-pola teratur dan pola-pola tak beraturan ), baik baik dari benda-benda mati (abiotik ) maupun benda-benda hidup ( biotic ), selanjutnya penomena-penomena identitas itu tak ubahnya medan perkenalan, tiap materi saling unujuk ego ( identitas ) yang selanjutnya teraktualisasikan sebagai kesadaran primitif, dan lebih unik kesadaran-kesadaran primitif ( tiap materi biotic dan abiotik ) membentuk deret ruang ( dimensi ) dimana kesadaran primitif terendah tidak bisa mengenali kesadaran primitif diatasnya. Sebaliknya kesadaran primitif paling atas bisa dengan mudah mengenali kesadaran-kesadaran primitif dibawahnya. Bisa jadi, identitas manusia adalah kesadaran primitif teratas, sebab kesadaran primitif manusia mampu mengidentifikasi kesadaran-kesadaran primitif lainnya, bahkan mampu melakukan hipotesa-hipotesa dan experiment-experiment untuk menemukan kesadaran-kesadaran primitive baru yang ada disekililingnya.

Selanjutnya, kesadaran primitif manusia bukanlah kesadaran statis, sebab kesadaran primitif manusia melaju pesat meninggalkan kesadaran-kesadaran lainya bahkan memanfaatkannya. Dan terus bergerak hingga sekarang. Dalam beberapa kasus ditemukan kesadaran primitif manusia yang statis akibatnya kesadaran primitif manusia tersebut bersifat destruktif terhadap kesadaran-kesadaran primitif lainnya.

Sejauh pergerakan kesadaran primitif manusia, sulitlah baginya untuk menemukan asal kesadaran primitif itu, kecuali kesadaran primitif manusia itu mau bergerak dengan pola deret ruang , keluar dari ruang masuk ruang dan apabila gerakan deret ruang ini bisa dipertahankan pada saat itu pula kesadaran primitif manusia sedang bergerak menuju kesadaran langit.

Kesimpulan

Kesadaran primitif manusia ada sejak manusia itu ada dan terus bergerak ( dinamis ) membentuk deret ruang, kesadaran ini terbentuk karena pola identitas manusia yang memiliki panca indra (khowasy), gorizah (instink), akal (intelektual), keyakinan (Aqidah) dan bimbingan (langit ) ilahiah, penyebab manusia mampu menemukan ruang-.ruang lain dalam kehidupannya.

Selanjutnya manusia yang identitasnya atau kesadaran primitifnya seperti diatas mampu mengurai ruang dan waktu dalam tiga periode, pertama ruang dan waktu lampau diterima sebagai qodho (ketentuan yang telah berlaku), kedua ruang dan waktu sekarang diterima sebagai medan amal sholeh, dan ketiga adalah ruang dan waktu yang akan datang diterima sebagai ‘abdun (berserah diri) dan oleh karenanya berhak untuk menjadi khalifah fil ardi. Yang kepadanya (manusia) Alloh taklukan semua yang ada di langit dan di bumi, dibukakanya tiap-tiap pintu langit dan diurainya tiap-tiap lapisan bumi, baik sebagai pengetahuan maupun sebagai alat kemulyaanya dalam keperluan ke-Khalifahan-nya.


About this entry