Sanghyang Tunggal

Nyaris sempurna, kalaulah kita semua tidak melewatkan cerita Sunan Kali Jaga yang berdakwah (salah satunya) melalui ceritera hindu kuno Bhagawad Ghita yang di update ulang sejalan dengan pola pikir masyarakat hindu ketika itu dengan kisah manusia  pertama Bapak (Nabi) Adam yang berdasarkan berita langit (wahyu) , mengapa tidak ? maka, seolah ceritera Hyang Tunggal yang beredar di alam pewayangan murni kisah masyarakat hindu.

Konon Ceritera, Sanghyang Tunggal itu adalah pencipta langit dan bumi, pencipta alam semesta dan selanjutnya Sanghyang Tunggal diam dan bertahta di sawarga maniloka. Untuk pengurusan alam dan segala isinya serta segala fenomenanya  Sanghyang tunggal dibantu oleh ketiga anaknya  :

1. Sanghyang Ismaya (anak tertua) Dewa yang sangat sakti mandraguna tak ada yang bisa menandingi, semua dewa-dewa di kahyangan takut dan tunduk kepadanya, kecuali kepada bapaknya Sanghyang Tunggal. Adapun data-data yang melekat kepada diri Sanghyang Ismaya adalah sebagai berikut :

a. Terbuat dari tanah

b. Bertugas mengawal, menjaga, mensukseskan program-program dan kegiatan-kegiatan kebenaran

c. Zimat yang dipunyainya Layang Jamus Kalimusada yang disimpan dikepalanya diantara kulit dan tempurungnya. Zimat ini memiliki khasiat untuk selalu bisa mengawal menjaga dan mensukseskan kebenaran bahkan bisa dipakai sebagai penghancur kebatilan.

d. Selanjutnya, karena selalu berselisih dengan adiknya Sanghyang Rancasan, Sanghyang Ismaya harus turun (diusir oleh Sanghyang Tunggal) ke Marcapada (Dunia manusia) menjelma menjadi manusia buruk rupa, perut buncit, hitam pendek, gigi satu dan rambut cuma seongok akan tetapi ruh dewa, tugas serta zimat dan  kesaktiannya masih melekat. Dalam dunia pewayangan dikenal sebagai tokoh Semar (sem : pangangkem-ngangkem, mar : Dzat na alam, semar-semar kukuncungan, ada juga pendapat : semar asal kata simarun = paku, semar pakuning alam). Semar inilah, tokoh baru pada masyarakat hindu di indonesia saat itu yang tidak ada dalam cerita aslinya Bhagawad Ghita. Selanjutnya dalam pengembaraanya di marcapada semar di bantu oleh tiga anaknya :

Astrajingga juga dikenal dengan nama cepot (sastra = tulisan, jingga = beureum) dibuat dari batu, yang dalam pewayangan jawa (wayang kulit) dikenal dengan nama  Bagong, yang  berasal dari kata Baghaa yang berarti memberontak melawan kelaliman dan kezaliman, yang dalam versi lain berakar dari kata Baqa’ yang bermakna kelanggengan atau keabadian, dimana setiap manusia tempatnya adalah di akhirat dan dunia adalah tempat mampir saja (tempat menumpang minum belaka), seolah sedang dinyatakan bahwa manusia adalah makhluq langit.

Dawala atau Petruk dibuat dari saung, Kata Petruk sendiri berasal dari kata Fatruk yang dicukil dari kalimat Tasawuf  Fat-ruk kulla maa siwallahi yang artinya tinggalkan semua apapun selain Allah. Wejangan atau petuah semacam inilah yang menjadi watak para wali dan mubaligh pada masa itu. Petruk juga dijuluki sebagai kantong bolong (kantung berlubang) yang bermakna setiap manusia harus berzakat dan menyerahkan jiwa raganya kepada Allah semata secara ikhlas, tanpa pamrih seperti berlubangnya kantung tanpa penghalang.

Dan yang bungsu Gareng,  Gareng atau Nala Gareng berasal dari kata Naala Qariin yang bermakna memperoleh banyak teman, dimana maksudnya adalah sesuai dengan dakwah para wali dalam memperoleh teman (umat) sebanyak-banyaknya untuk kembali ke jalan Allah SWT dengan sikap arif dan harapan yang baik.

2. Sanghyang Rancasan (anak kedua), dewa yang juga sakti mandraguna, semua dewa di kahyangan termasuk Batara Guru takut padanya, Sanghyan Rancasan hanya takut dan tunduk kepada kakaknya Sanghyang Ismaya dan bapaknya Sanghyang Tunggal, namun karena wataknya yang selalu propokatif (ngahihileudan, ngabalerangan, ngadu domba dan sifat-sifat destruktif lainnya) menyebabkan selalu berselisih dengan kakaknya  Sanghyang Ismaya. Adapaun data-data lain yang melekat pada Sanghyang Rancasan adalah sebagai berikut :

a. Terbuat dari api

b. Bertugas memulai, mengawal dan mensukseskan program-program dan kegiatan-kegiatan kekacauan

c. Dikarenakan selalu memulai perselisihan dengan kakaknya Sanghyang Ismaya, Sanghyang Rancasanpun diusir dari kahyangan untuk turun ke marcapada dengan nasib yang serupa berubah ujud menjadi manusia yang jelek rupa dengan sebutan Lurah Togog (Togut) dengan tugas dan kesaktiannya tetap melekat sebagai propokator

3. Batara Guru, anak Sanghyang Tunggal yang bungsu, Dewa yang sangat sakti mandraguna dan juga Raja kahyangan bertangan empat, salah satu tangannya memegang Cakra sebagai zimat yang maha ampuh dengan salah satu khasiatnya adalah mampu mengembalikan sesuatu perkara kepada keharusannya (sesuatu yang palsu bisa menjadi kembali asli). Adapun data-data yang melekat kepadanya adalah sebagai berikut :

a. Terbuat dari cahaya

b. Otoriter tunggal swargamaniloka

c. Beristeri Dewi Uma dan melahirkan beberapa anak yang bertugas membantu bapaknya (Batara Guru) dalam mengurus kerajaannya diantaranya : Batara Indra, Batara Surya, Batara Wisnu, Batara Brahma, Batara Bayu, Batara Aswin, Batara Dharma,Batara Syiwa, Batara Yama,  Batara Kala, dan Batara-Batara lainnya. Dikisahkan Batara Guru juga suatu saat tak bisa menjaga syahwat ketika seorang perempuan biasa sedang mandi dan akhirnya perempuan tersebut melahirkan Hanuman.

Dalam ceritera pewayangan selanjutnya Sanghyang Tunggal tidak pernah atau jarang terlibat lagi terputus di karakter ke -3 anaknya tersebut sebagai penyebab dinamika dunia pewayangan.

About these ads

About this entry